Minggu, 27 Maret 2011

KESERAKAHAN manusia terhadap tahta, apalagi tahta yang dikuasai 
secara merebut dan tidak sah, pada akhirnya bilamana kehendak Yang 
Maha Kuasa berlaku maka semua kekuasaan dan keserakahan itu 
akan menjadi bencana. Itulah yang terjadi dengan Nyi Harum Sarti 
yang menobatkan diri sebagai Ratu Laut Utara, merampas tahta 
Kerajaan Laut Utara dari tangan Ayu Lestari, yang menerima warisan 
syah dari Ratu Sepuh Ratu Pertama Kerajaan Laut Utara. 

Nyi Harum Sarti akhirnya menemui kematiannya di tangan Ratu 
Duyung yang membekal Pedang Naga Suci 212 pemberian Sinto 
Gendeng. Karena kecintaannya pada Pendekar 212 Wiro Sableng, di 
saat-saat nyawa akan lepas meninggalkan jazad kasarnya Nyi Harum 
Sarti masih sempat mengeluarkan ucapan yang sungguh mengharukan 
namun ditutup dengan kata-kata yang membuat murid Sinto 
Gendeng menjadi terkesiap dan dingin sekujur tubuhnya. 

Dalam keadaan tubuh bersimbah darah Ratu Laut Utara 
melangkah terhuyung-huyung, berusaha mendekati Wiro. Dua langkah 
dari hadapan sang pendekar dia tak mampu lagi berjalan, jatuh berlutut 
tapi kepala masih menatap lurus ke arah Wiro dan mulut masih 
mampu keluarkan ucapan. 

“Wiro. Kasih sayangku padamu bukannya loyang. Kasih sayangku 
padamu akan aku bawa sampai ke liang lahat. Aku sangat 
berbahagia karena kau turut menyaksikan kepergianku. Walau di 
dunia kita tidak bisa bersatu, aku akan menantimu di akhirat...” 

Ratu Laut Utara ulurkan tangan kanan, berusaha menyentuh 
wajah Pendekar 212. Namun tangan itu terkulai jatuh ke tanah. Tubuh 
kaku tak bergerak tapi mulut masih sanggup mengeluarkan kata-kata 
walau kali ini suara yang keluar jauh lebih perlahan, tak ada yang 
mendengar kecuali Wiro. 

“Kekasihku, ini bukan akhir dari satu perjalanan. Ini bukan akhir 
dari segala-galanya. Kita akan bertemu lagi. Karena aku akan menitis 
masuk ke dalam diri Ken Permata...” 

Pendekar 212 serta merta merasa sekujur tubuh mendadak 
menjadi dingin. Apa barusan dia tidak salah mendengar. Apa dalam 
keadaan sekarat perempuan itu sadar akan apa yang diucapkannya? 
Ken Permata adalah puteri Nyi Retno Mantili, istri mendiang Patih 
Kerajaan Wira Bumi, yang selama ini dicarinya dan sekarang tidak 
tahu berada di mana. (Kisah terbunuhnya Ratu Laut Utara alias Nyi 
Harum Sarti oleh Ratu Duyung dapat dibaca dalam episode 
sebelumnya berjudul “Cinta Tiga Ratu” sedang kematian Patih Wira 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

Bumi dituturkan dalam serial Wiro Sableng berjudul “Bayi Satu Suro”. 
Patih kerajaan itu menemui ajal ditangan Pendekar 212 Wiro Sableng 
dengan golok besar milik Wira Bumi sendiri). 

Perlahan-lahan tubuh Ratu Laut Utara terhuyung ke depan lalu 
tersungkur di tanah. Mahkota emas bertabur batu permata tanggal 
dari kepala, terjatuh ke tanah. Ratu Sepuh menatap sayu ke depan. 
Dengan ujung tongkat emasnya dia mengait mahkota yang jatuh lalu 
menyerahkan pada Ayu Lestari. 

“Akhir dari nafsu berkuasa dan keserakahan...” ucap Ratu 
Pertama Kerajaan Laut Utara ini dalam hati. 

Sementara semua orang terdiam dalam pikiran dan hati masingmasing 
tiba-tiba satu bayangan biru berkelebat Satu tendangan 
melesat cepat dan deras. Tubuh tak bernyawa Ratu Laut Utara 
mencelat mental lalu terkapar di tanah. Mulut dan sebagian mukanya 
tampak hancur mengerikan. 

Semua orang tersentak dan berseru kaget. Memandang 
berkeliling mereka melihat Bidadari Angin Timur yang sejak tadi berdiri 
di samping Ratu Sepuh tak ada lagi di tempat itu. Wiro ingin sekali 
mengejar ke arah lenyapnya gadis berambut pirang itu. Namun dalam 
keadaan seperti itu dia merasa tidak enak melakukan hal itu. 

“Dia menendang kepala mayat, apakah karena ada dendam dan 
sangkut pautnya dengan ucapan Ratu Laut Utara yang mengatakan 
dirinya janda.” Membatin murid Sinto Gendeng. 

Sebelum tewas di tangan Ratu Duyung seperti telah diceritakan 
sebelumnya dalam episode “Cinta Tiga Ratu”, Ratu Laut Utara dengan 
suara lantang setengah berteriak saat itu berkata sehingga semua 
orang mendengar. 

“Wiro, aku tahu kau tidak mencintai gadis bernama Ratu Duyung 
yang setengah manusia dan setengah ikan itu! Aku juga tahu kau 
tidak mencintai gadis berambut pirang bernama Bidadari Angin Timur 
yang janda muda dari Kepala Pengawal Kesultanan Cirebon Tubagus 
Kesumaputra itu!” 

Murid Sinto Gendeng menggaruk kepala. 

“Uuhhh...” 

Bujang Gila Tapak Sakti yang sejak tadi berdiam diri tak dapat 
menahan sakit, keluarkan suara mengeluh sambil pegangi bagian 
bawah perutnya yang bengkak melembung akibat sengatan tubuh 
kalajengking beracun yang dilepas Ning Kameswari atas perintah 
Datuk Api Batu Neraka salah seorang pembantu kepercayaan Ratu 
Laut Utara. Dikisahkan dalam episode “Cinta Tiga Ratu”, Datuk Api 
Batu Neraka menemui ajal dibunuh Jin Durna Rawana sedang Ning 
Kameswari tewas ditendang Ratu Laut Utara. 

“Gendut, kau tenanglah barang sebentar...” kata Ratu Sepuh 
pula. 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

“Bagaimana bisa tenang Nek. Kau tidak merasakan. Anuku 
melembung bengkak. Sakitnya seperti ditusuki ratusan jarum api! 
Delapan puluh tahun hidup di dunia baru kali ini sengsara begini rupa. 
Kalau tidak percaya apa kau mau lihat sendiri?!” 

Habis berkata begitu Bujang Gila Tapak Sakti hendak rorotkan 
celana komprang hitamnya. Ratu Duyung cepat-cepat melengos. Ayu 
Lestari melongo kaget dan memandang ke jurusan lain. Nyi Roro 
Manggut mesem-mesem palingkan kepala tapi setengah-setengah 
masih melirik juga. 

Ratu Sepuh angkat tongkat emas di tangan kanan. 

“Kalau kau berani kurang ajar, aku gedor barangmu. Kau akan 
sengsara seumur-umur!” 

Bujang Gila Tapak Sakti bergumam dan cemberut kesal 
mendengar perabotannya akan digedor! Sambil menahan sakit dia 
mundur dua langkah menjauhi ujung tongkat si nenek yang siap 
disodokkan ke bagian bawah perutnya. 

“Sebelum pergi aku mau bicara dulu dengan nenek satu itu.” 
Kata Ratu Sepuh lalu melangkah mendekati perempuan yang 
berambut putihnya dikonde di atas kepala, mengenakan kebaya dan 
kain putih. Inilah Nenek Cempaka, pembantu utama Ratu Sepuh 
ketika dia masih menjadi Ratu Laut Utara yang pertama sebelum 
menyerahkan tahta kepada Ayu Lestari. Sebelumnya ketika Nyi Harum 
Sarti sang Ratu Laut Utara palsu merampas tahta memerintahkan 
nenek sakti ini untuk membunuh Ratu Sepuh, dengan tongkat saktinya 
yang terbuat dari Ratu Sepuh membuat Nenek Cempaka menjadi 
patung, kaku tak bergerak. Namun karena masih berada dalam 
sirapan ilmu hitam Ratu Laut Utara dan tadi sebelumnya dia sudah 
bergerak hendak menyerang Ratu Sepuh, maka begitu bebas Nenek 
Cempaka kembali lanjutkan serangannya. 

Ratu Sepuh sekali lagi angkat tongkat sakti. Kini ujung tongkat 
emas diarahkan tepat ke dada Nenek Cempaka sambil mulutnya 
berucap. 

“Sudah! Sudah! Buyar! Buyar! Ilmu Hitam masuk ke dalam 
tanah! Segala kebaikan masuk ke dalam darah!” 

Cahaya kuning berkiblat di ujung tongkat emas. Saat itu juga 
Nenek Cempaka mengeluh seperti kesakitan. Muka berubah pucat 
Tenung sirapan ilmu Penyejuk Jiwa Pemikat Hati yang selama ini 
menguasai dirinya musnah. Begitu sadar nenek itu jatuhkan diri di 
tanah sambil pegangi dua kaki Ratu Sepuh dia menangis tersedu-sedu. 

“Kanjeng Sri Ratu, saya Cempaka mohon maaf dan ampunanmu 
Sri Ratu. Apapun yang telah terjadi saya siap menerima hukuman.” 

“Menghukummu semudah aku membaliktelapak tangan. Katakan 
dulu apa yang telah terjadi?” Ucap Ratu Sepuh. 

“Nyi Harum Sarti, dia menenung saya dengan Ilmu Penyejuk 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

Jiwa Pemikat Hati. Saya berusaha membebaskan diri namun dia 
memiliki kekuatan ilmu hitam dia atas kemampuan saya...” 

“Kalau begitu kejadiannya, kau tidak salah. Manusia yang 
bersalah telah menerima hukumannya. Bangunlah!” 

Ratu Sepuh dan Ayu Lestari menolong Nenek Cempaka bangkit 
berdiri. Ketiga orang itu berpeluk-pelukan beberapa lama lalu Ratu 
Sepuh beranjak mendekati Purnama. 

“Cucuku manis, tadi kau hendak menyerangku dengan ilmu yang 
luar biasa hebat. Aku baru hari ini melihatmu. Rasa-rasanya kau 
bukan orang dari negeri ini. Sekarang ceritakan padaku. Nasib apa 
yang menimpa dirimu hingga kesasar ke sini dan menjadi kaki tangan 
Ratu Laut Utara palsu.” 

Seperti terhadap Nenek Cempaka, Ratu Sepuh sapukan tongkat 
emas ke arah kepala Purnama. Saat itu juga Purnama mampu 
menggerakkan tubuhnya kembali. Begitu bebas gadis dari alam 1200 
silam ini segera melanjutkan serangannya yang tadi tertahan yakni 
hendak melancarkan pukulan Kutuk Alam Gaib Lapis Ke Tujuh. 

Kembali Ratu Sepuh angkat tongkat sakti, ujungnya diarahkan 
ke dada kiri Purnama, mulut berucap. 

“Sudah! Sudah! Buyar! Buyar! Ilmu hitam masuk ke dalam 
tanah! Segala kebaikan masuk ke dalam darah!” 

Purnama terhuyung-huyung, coba tertahan dan mengimbangi 
diri namun akhirnya jatuh terduduk di tanah. Mulutnya keluarkan 
suara mengerang. Dadanya terasa sakit Wajah yang cantik tampak 
pucat Sepasang mata menatap ke arah Ratu Sepuh lalu memandang 
pada orang-orang yang mengelilinginya. 

Tanpa dibantu siapa-siapa gadis dari Negeri Latanahsilam ini 
berdiri dan melangkah ke hadapan Ratu Sepuh. Setelah membungkuk 
dalam-dalam Purnama berkata. 

“Ratu Sepuh, saya menghaturkan banyak terima kasih atas 
semua budi kebaikanmu hingga saat ini saya bisa bergerak dan bicara 
kembali. Nama saya Purnama. Saya memang datang dari negeri asing 
seribu dua ratus silam...” 

“Ah, hebat sekali!” kata Ratu Sepuh dengan sepasang mata 
bening memperhatikan Purnama dari ujung rambut sampai ke kaki. 
“Seribu dua ratus tahun silam lalu. Dan kau masih merupakan seorang 
gadis cantik jelita. Sungguh luar biasa...” 

“Nek, kau keliwat memuji.” Purnama memandang ke arah Wiro, 
Ratu Duyung dan Nyi Roro Manggut. Lalu kembali menatap Ratu 
Sepuh. “Nek, para sahabat semua, saya akan mengatakan sesuatu. 
Yaitu apa yang akan terjadi dengan diri saya. Apa yang saya 
sampaikan bukan merupakan pembelaan diri. Jika kalian semua 
menganggap saya bersalah, saya siap menerima hukuman. Dibunuh 
sekalipun akan saya terima...” 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

Ratu Sepuh anggukan kepala. Nyi Roro Manggut manggutmanggut 
beberapa kali. Wiro dan Ratu Duyung diam saja sementara 
Nenek Cempaka dan Ayu Lestari saling melirik. 

“Soal hukuman soal kedua. Yang penting kami ingin tahu 
mengapa kau berserikat dengan Ratu Laut Utara palsu. Tega 
mengkhianati para sahabat. Bahkan aku dengar ada seorang nenek 
sahabat kalian yang menemui ajal di kawasan laut utara...” 

“Saya mohon maaf atas semua yang terjadi. Seperti Nenek 
Cempaka, saya terkena sirap tenung Penyejuk Jiwa Pemikat Hati yang 
diterapkan oleh Nyi Kuncup Jiwa...” 

“Hemm...” Ratu Sepuh bergumam. “Berarti aku akan memberikan 
pengampunan atas dirimu sama dengan yang aku berikan pada 
Nenek Cempaka. Tapi antara kau dan aku tidak ada ikatan apa-apa. 
Hingga aku tidak bisa memberi keputusan seperti halnya dengan 
Nenek Cempaka. Semua putusan akan diambil oleh teman-temanmu 
yang ada di sini.” Ratu Sepuh memandang pada Wiro, Ratu Duyung 
dan Nyi Roro Manggut. 

“Ratu Sepuh, aku memberi maaf padamu.” Pendekar 212 yang 
pertama kali memberikan jawaban. 

“Terima kasih Wiro. Kau mau mengerti dan memaafkan diriku,” 
kata Purnama pada Pendekar 212. 

“Nyi Roro Manggut tiba-tiba keluarkan ucapan. 

“Ratu Sepuh, mohon maaf. Juga pada semua yang ada disini. 
Barusan aku mendapat perintah jarak jauh dari Nyai Roro Kidul. Aku 
dan Ratu Duyung diminta menghadap untuk segera menyerahkan Batu 
Mustika Angin Laut Kencana Biru yang telah kami dapatkan dan 
sebelumnya dirampas oleh Ratu Laut Utara palsu.” 

Si Nenek membungkuk memberi hormat pada Ratu Sepuh, 
Nenek cempaka dan Ayu Lestari. Pada Wiro dia layangkan ejekan 
dengan pencongkan mulut Lalu tanpa menunggu lebih lama Nyi Roro 
Manggut tarik tangan Ratu Duyung. Dalam waktu sekejapan saja ke 
dua orang itu sudah berkelebat jauh ke arah pantai. 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 


PURNAMA tampak gelisah. Dia menatap Wiro sebentar lalu berpaling 
pada Ayu Lestari, Nenek Cempaka dan Ratu Sepuh. 

“Ratu Sepuh, saya sangat menyesalkan terjadinya keadaan 
seperti ini. Jika semua memang sudi memaafkan saya maka saya 
mohon izin pergi dari sini. Sekali lagi saya mengucapkan banyak 
terima kasih atas segala budi baik Ratu Sepuh, Nenek Cempaka dan 
sahabat saya yang baru Ratu Laut Utara Ayu Lestari.” 

Ayu Lestari dan Nenek Cempaka tersenyum mendengar ucapan 
Cempaka. Namun Ratu Sepuh buru-buru berkata. 

“Tunggu, jangan pergi dulu. Purnama, walau aku dan Ayu Lestari 
serta Nenek Cempaka belum berunding, tapi rasanya kami bertiga bisa 
sepakat untuk menawarkan sesuatu kepadamu.” 

“Menawarkan sesuatu? Menawarkan apa Ratu Sepuh?” tanya 
Purnama. 

“Setelah Ratu Laut Utara Nyi Harum Sarti menemui ajal maka 
kekuasaan di kerajaan Laut Utara kembali kepada pemiliknya yang 
syah yaitu Ayu Lestari. Aku sebenarnya tidak ingin lagi ikut campur 
urusan dunia. Apalagi yang menyangkut tahta Kerajaaan. Nenek 
Cempaka sudah lama uzur dan aku yakin dia juga sama dengan aku, 
tak mau lagi mengurusi segala sesuatu yang bersangkutan dengan 
Kerajaan Laut Utara. Namun itu bukan berarti kami akan berlepas 
tangan bilamana terjadi sesuatu dengan Kerajaan yang aku bangun 
ini. Aku merasa, di masa depan keadaan akan lebih banyak tantangan. 
Sebagai penguasa laut utara aku percaya Ayu Lestari akan sanggup 
menghadapi semua tantangan itu. Namun betapapun dia 
membutuhkan seorang pembantu sekaligus sahabat yang bisa 
dipercaya. Kami bertiga, aku, Ayu Lestari, dan Nenek Cempaka telah 
menemukan calon yang sangat cocok. Yaitu dirimu. Kami harap kau 
jangan sampai menampik.” 

“Untuk beberapa lamanya Purnama tegak tertegun memandang 
pada ke tiga orang di hadapannya itu sementara di samping lain 
Bujang Gila Tapak Sakti goyang-goyang kepala sambil menghembushembus 
dan tekap bagian bawah perutnya menahan sakit. Tubuhnya 
yang berwarna biru mandi keringat. Kopiah kupluk basah kuyup. Kipas 
kertasnya hilang entah kemana. Serba salah akhirnya si gendut itu 
duduk di bawah patung dengan dua kaki berkembang. Dada yang 
gembrot turun naik, mulut meniup-niup seperti ikan. Tangan 
mengipas-ngipas bagian bawah perut. Dia sama sekali tidak 
perdulikan apa yang dibicarakan orang. 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

Pendekar 212 juga terheran-heran mendengar ucapan Ratu 
Sepuh. Apakah Purnama akan bersedia menerima permintaan nenek 
sakti yang merupakan Ratu Laut Utara pertama itu? Selama ini dia 
kian kemari tidak berumah tidak bertempat tinggal tetap. Bukankah 
memang lebih baik kalau dia mau bermukim di Kerajaan Laut Utara?” 

Apa yang terpikir oleh Wiro saat itu sebenarnya juga terlintas 
dalam benak dan hati Purnama. 

“Cucuku cantik, kau hanya tertegun. Apakah tidak akan 
memberikan jawaban?” Nenek Cempaka kini yang berkata. Rupanya 
dia juga sangat berkenan dengan gadis dari Latanahsilam ini. 

“Saya...saya sudah menanam budi pada semua orang yang ada 
di sini. Saya belum sempat membalas sudah diberikan lagi budi yang 
sangat besar. Saya harus memikirkan baik-baik supaya tidak ada yang 
dikecewakan. Ratu Sepuh, Nenek Cempaka dan Ayu Lestari, apakah 
saya boleh diberi waktu untuk menjawab?” 

“Mengapa kau tidak bisa menjawab sekarang saja, Purnama?” 
tanya Ayu Lestari. 

“Ratu muda sahabatku, saya masih punya satu urusan yang 
harus saya selesaikan. Maafkan saya Ratu Sepuh. Maafkan saya Nenek 
Cempaka. Saya harus mencari dan menemui seseorang...Mungkin dua 
orang.” 

Ratu Sepuh yang arif berkata. “Aku mengerti, aku sudah 
maklum. Baiklah, kami bertiga tidak akan memaksa. Secepatnya kau 
ada kesempatan temui Ayu Lestari.” 

“Kalau begitu apakah saya boleh minta diri sekarang?” tanya 
Purnama. 

“Pergilah. Berlakulah hati-hati. Bukan mustahil masih ada anak 
buah Nyi Harum Sarti yang tidak kita ketahui masih berkeliaran di 
sekitar sini.” 

Purnama mengangguk, membungkuk hormat pada ketiga orang 
di hadapannya lalu tinggalkan tempat itu. 

Ratu Sepuh menghela napas dalam. Lalu berkata setengah 
berbisik pada Ayu Lestari yang juga didengar oleh Nenek Cempaka. 
“Kalau saja dia mau bergabung dengan kita atau paling tidak menunda 
kepergiannya barang satu hari...Aku punya firasat dia akan menemui 
halangan besar di perjalanan. Nenek Cempaka, sebentar lagi harap 
kau ikuti gadis berbaju biru itu.” Habis berkata begitu Ratu Sepuh 
berpaling pada Wiro. “Pendekar Dua Satu Dua, apakah kau juga 
hendak cepat-cepat meninggalkan tempat ini?” 

Wiro tersenyum dan garuk kepala. “Tidak Ratu Sepuh. Saya 
tidak akan pergi. Saya masih menunggu sampai Ratu Sepuh menolong 
sahabat saya si gendut yang sejak tadi kesakitan setengah mati itu.” 

“Ahh... aku sampai terlupa dengan sobatmu itu. Mana coba aku 
lihat apa penyakitnya.” Sambil senyum-senyum Ratu Sepuh dekati 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

Bujang Gila Tapak Sakti yang duduk dengan kaki berkembang di 
bawah patung. “Anak muda yang konon sudah berusia delapan puluh 
tahun. Kau memberi tahu tubuhmu sebelah bawah bengkak besar dan 
sakit bukan main lalu sekujur kulit tubuhmu menjadi biru gara-gara 
diantuk tujuh ekor kalajengking biru yang dilepas oleh Ning Kameswari 
anak buah Ratu Laut Utara palsu.” 

“Aku sudah menceritakan. Apa kau mau aku bercerita lagi? Aduh 
Nenek Ratu, aku sudah tidak bisa menahan sakit. Rasanya kepalaku 
atas bawah mau meledak pecah!” 

Ning Kameswari gadis cantik. Jangan-jangan kau bukan diantuk 
kalajengking tapi diantuk gadis itu. Hik...hik...hik! Betul?” Rupanya 
Ratu Sepuh pandai juga bergurau. 

“Ratu Sepuh jangan bercanda. Kau bisa dan mau menolongku 
apa tidak? Kalau tidak biar aku gebuk kepalaku saat ini. Mati rasanya 
akan lebih baik dari pada kesakitan begini!” 

“Jangan marah, apa lagi sampai nekad bunuh diri. Kalau aku 
tidak bermaksud menolongmu pasti waktu dipantai aku tidak akan 
menelanmu hidup-hidup. Nah, sekarang buka kakimu lebih lebar. Biar 
ujung tongkatku tidak meleset menyodok bagian bawah perutmu!” 

“Apa Nek?!” ucap Bujang Gila Tapak Sakti sambil cepat-cepat 
tekap bagian bawah perutnya. “Kau mau menyodok perabotanku yang 
lagi bengkak dan sakit setengah mati dengan tongkatmu?! Wong 
edan! Kepalaku saja kau gebuk sampai pecah Nek! Biar beres 
urusannya! Aku...” 

Selagi Bujang Gila Tapak Sakti bicara Ratu Sepuh sodokkan 
kuat-kuat ujung tongkat emasnya ke bagian bawah perut si gendut ini. 

“Dukkk!” 

“Dess...dess...dess!” 

Bujang Gila Tapak Sakti menjerit setinggi langit. Tubuhnya 
terpental ke udara. Dari bawah perutnya terdengar tiga kali letupan 
disertai mengepulnya asap biru. Sebelum jatuh bergedebuk ke tanah 
si gendut ini menggapai dan berpegangan pada tubuh patung Wiro 
yang sedang membungkuk meneduhi tubuh patung Ratu Laut Utara. 
Dua kakinya dikibas-kibas. Patung batu bergoyang-goyang menahan 
berat tubuh si gendut yang ratusan kati. 

Ratu Sepuh ketok pantat Bujang Gila Tapak Sakti dengan ujung 
tongkat. Membuat pemuda ini terlepas pegangannya dari tubuh 
patung lalu jatuh bergedebuk menungging di tanah. Dari hidung, 
telinga dan mulut mengepul asap biru. Sementara dari pantat butt... 
butt...butt meletup-letup suara kentut yang juga memancarkan asap 
biru! Dalam keadaan menungging Bujang Gila Tapak Sakti mengerang 
tiada henti.Tiba-tiba suara erangannya berhenti. Matanya yang belok 
berputar-putar. Rasa sakit di bagian bawah perut mendadak 
lenyap.Tubuhnya kini malah terasa sejuk membuat matanya nyaman 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

meram melek. “Nek, Ratu 

Sepuh, kau apakan anuku...?” tanya Bujang Gila Tapak Sakti 
sambil duduk di tanah. Lalu dia usap-usap bagian bawah perutnya. 
Belum puas dua tangan dimasukkan ke balik celana. Meraba kian 
kemari. Malah kemudian mengucak-ucak. “Eh...” Si Gendut menatap 
ke arah Ratu Sepuh. “Weehhh, kempes Nek. Kau...” 

Si nenek Cuma senyum-senyum. Dia mengeluarkan sesuatu dari 
balik pakaian beludrunya dan melemparkan benda itu pada Bujang 
Gila Tapak Sakti seraya berseru. 

“Ambil!” 

Bujang Gila Tapak Sakti cepat menangkap benda yang 
dilemparkan.Ternyata satu kantong terbuat dari kulit binatang. 

“Di dalam kantong itu ada obat bubuk. Anumu memang sudah 
kempes dan sembuh. Tapi sekujur kulit tubuhmu masih tetap biru. 
Bubuk di dalam kantong itu adalah obat penyembuhnya. Cara 
pengobatan satu-satunya adalah seseorang harus menaburkan bubuk 
itu di atas anumu lalu mengusapnya tujuh kali sesuai jumlah kelabang 
yang menyengat. Sambil mengusap dia harus meniup-niup anumu. 
Juga tujuh kali...” 

“Kau bercanda Nek?!” tanya Bujang Gila Tapak Sakti. 

“Aku menolongmu, bukan bercanda. Bujang Gila, apakah kau 
sudah beristri? Maksudku jika sudah maka istrimu bisa melakukan hal 
itu. Lebih cepat lebih bagus.” 

Bujang Gila Tapak Sakti menggeleng. Dia tetap berpikiran si 
nenek tangah mengenainya. 

“Aku tidak punya istri Nek.” 

“Kalau begitu kekasihmu saja...” kata Ratu Sepuh juga. 

“Kekasihku juga aku tidak gablek Nek.” 

“Kalau kau tidak punya istri tidak punya kekasih berarti kau 
harus mencari seorang perempuan untuk menolongmu.” Kata Ratu 
Sepuh pula. “Begitu?” Bujang Gila Tapak Sakti tertegun sesaat. Lalu 
kepalanya dipalingkan pada Ayu Lestari. Mata belok mendelik, mulut 
menyeringai. Saat itu juga pewaris syah Kerajaan Laut Utara 
melompat jauh lalu secepat kilat lari ke arah pantai. 

Ratu Sepuh melakukan hal sama. Sekali dia ketukkan ujung 
tongkat emas ke tanah maka tubuhnya berubah menjadi buaya putih 
besar, melesat tinggi ke udara lalu laksana terbang melesat ke arah 
pantai sambil umbar tawa cekikikan. 

Bujang Gila Tapak Sakti tampak bingung. “Celaka, bagaimana 
ini. Perempuan mana...” Tiba-tiba pandangannya membentur Nenek 
Cempaka. “Ah, tidak rotan akarpun jadi! Nenek ini kan perempuan 
juga. Walau sudah tua tapi masih cantik...” 

Si nenek yang sudah bisa meraba apa yang ada di benak Bujang 
Gila tapak Sakti serta merta melangkah mundur sambil mulutnya 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

berucap.”O0...00...Tidak aku. Jangan aku.” Lalu tidak menunggu lebih 
lama dia segera berkelebat hendak pergi dari situ. 

Namun si gendut lebih cepat. Dia berhasil mencekal tangan kiri 
si nenek lalu menariknya. Sesaat kemudian Nenek Cempaka sudah 
berada dalam gendongannya. Perempuan tua itu berteriak-teriak. 

“Lepaskan! Lepaskan! Aku tidak mau! Aku tidak mau melakukan 
itu!” 

“Nek, kau harus menolongku.” Kata Bujang Gila Tapak Sakti 
sambil membawa si nenek ke arah serumpunan semak belukar lebat. 

“Tidak! Aku tidak mau!” kembali nenek Cempaka berteriak. 

“Ingat Nek, ini pesan Ratu Sepuh!” 

“Aku tahu! Tapi dia tidak bilang harus aku yang melakukan!” 

“Jangan takut Nek. Perabotanku tidak burik. Juga tidak ada 
tanduknya.Tapi bagus mulus. Masih kencang Nek! Kata orang aku 
masih perjaka. Padahal aku tidak tahu apa artinya perjaka. 
Ha...ha...ha!” 

“Gendut kurang ajar! Kau ini bicara apa?! Lepaskan diriku!” 

Bujang Gila Tapak Sakti sampai di balik semak belukar. Jeritan 
nenek makin keras. 

“Tolong Nek. Aku buka celanaku yah?” 

“Gendut kurang ajar! Najis!” 

“Nek, obatnya sudah aku taburkan. Tinggal kau usap dan kau 
tiup-tiup...” 

“Tidaakkk!” 

“Wiro yang menyaksikan kejadian itu dari kejauhan tertawa 
gelak-gelak. 

“Nenek Cempaka!” teriak Wiro. “Kata Ratu Sepuh usap tujuh 
kali! Tiup tujuh kali! Jangan kurang jangan lebih! Ha...ha...ha!” 

Tiba-tiba tawanya lenyap ketika pandangannya mengarah pada 
dua patung yang sedang bersatu badan. Patung dirinya dengan Nyi 
Harum Sarti. 

“Patung jahanam! Biar yang satu ini aku bereskan lebih dulu!” 

Lalu murid Sinto Gendeng ini terapkan ajian Pukulan Sinar 
Matahari. Begitu tangan kanan menghantam, kiblatan cahaya putih 
perak panas dan menyilaukan menderu. 

“Buk...!” 

Hanya sekali hantam saja dua patung mesum di atas bukit kecil 
Pulau Menjangan Kecil hancur berkeping-keping, sama rata dengan 
tanah! 

Di balik semak belukar tidak terdengar lagi jeritan Nenek 
Cempaka. Juga tak ada suara Bujang Gila Tapak Sakti. Wiro merasa 
khawatir. 

“Jangan-jangan si gendut itu sudah mati konyol diremas 
perabotannya!” pikir murid Sinto Gendeng. Maka dia berteriak. 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

“Bujang Gila! Apakah urusanmu sudah selesai?” 

Dari semak belukar tiba-tiba terdengar jawaban. 

“Sedikit lagi! Jangan pergi dulu! Tunggu aku! Wah...wah. 
Sobatku Wiro! Usapannya melebihi nikmatnya usapan anak gadis! 
Ha...ha...ha...!Terima kasih Nek. Sekarang tiup Nek. Ingat Ratu Sepuh 
yang bilang begitu.Harus ditiup.Tujuh kali! Nah...nah! Aduh enak, 
asyik Nek. Sejuk sekali! Ha...ha...ha!” 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 


RATU DUYUNG dan Nyi Roro Manggut sampai di pantai selatan Pulau 
Menjangan Kecil. Dia merasa heran melihat si nenek mengambil jalan 
yang tidak langsung menuju pantai tapi seperti sengaja melewati 
bebukitan kecil yang penuh ditumbuhi pepohonan serta semak 
belukar. Sampai di pantai Nyi Roro Manggut menyelinap ke balik 
gundukan batu di belakang serumpun pohon bakau. Melihat sikap Nyi 
Roro Manggut, Ratu Duyung akhirnya membuka mulut bertanya pada 
si nenek. 

“Nyi Roro, apakah kau sungguhan menerima pesan jarak jauh 
dari Junjungan kita Nyi Roro Kidul? Bahwa kau dan aku agar segera 
menghadap untuk menyerahkan Batu Mustika Angin Laut Kencana 
Biru?” 

Nenek bertubuh cebol bermata juling gelung rambut putihnya di 
atas kepala. Sambil tertawa cengengesan dan usap hidungnya yang 
pesek rata dia menjawab. 

“Kau tahu, ini cuma akal-akalanku saja...” 

“Mengapa kau berbuat begitu? Takut Bujang Gila Tapak Sakti 
akan memilihmu untuk mengobati dirinya seperti yang dikatakan Ratu 
Sepuh?” 

“Hik...hik!” Nyi Roro Manggut tertawa. “Si gendut itu pasti tidak 
akan memilih diriku. Masih ada dirimu dan Ayu Lestari.Tapi terus 
terang itu memang salah satu alasanku mengapa aku mengajakmu 
cepat-cepat pergi. Si nenek memandang ke langit. Di arah timur 
tampak kelompok awan hitam menggumpal tebal, berarak mendekati 
kawasan laut di dekat pulau Menjangan Kecil. 

“Kita tidak bisa meninggalkan Wiro begitu saja Nek. Aku dan dia 
mati-matian berusaha mendapatkan kembali Batu Mustika Angin Laut 
Kencana Biru yang kini sudah kau simpan dalam tubuhmu.” 

“Kau tak usah khawatir pendekar itu. Cepat atau lambat dia 
akan bergabung dengan kita. Atau kau cemburu dengan Ayu Lestari?” 

“Kau ini ada-ada saja Nek. Coba katakan, apa alasan lain kau 
cepat-cepat mau pergi.” 

“Kau ingat apa yang diucapkan dengan suara keras oleh Nyi 
Harum Sarti tentang dirimu dan Bidadari Angin Timur?” tanya Nyi Roro 
Manggut. 

“Ah, itu rupanya. Terus terang aku memang merasa heran dan 
tidak enak. Mengapa Nyi Harum Sarti sampai bermulut ember, 
keluarkan ucapan seperti itu.” 

“Dia ingin mempermalukan kalian di hadapan orang banyak. 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

Sekaligus sengaja memancing di air keruh.” 

“Aku memang tidak suka dengan ucapannya yang mengatakan 
diriku adalah setengah manusia setengah ikan. Tapi aku pikir ujud 
keadaan diriku memang dulu seperti itu. Jadi walau jengkel aku 
memilih diam saja.” 

“Kau bisa berbuat begitu. Tapi bagaimana dengan Bidadari Angin 
Timur? Kau mendengar sendiri apa yang diteriakkan Nyi Harum Sarti 
pada Bidadari Angin Timur sebelum kau membunuh Ratu celaka itu 
dengan Pedang Naga Suci Dua Satu Dua. Gadis berambut pirang itu 
dikatakan janda muda Kepala pengawal Kesultanan Cirebon Tubagus 
Kesumaputra! Tidak heran kalau Bidadari Angin Timur kemudian 
menendang hancur mulut dan kepalanya walau Nyi Harum Sarti sudah 
jadi mayat! Tidak kusangka Bidadari Angin Timur bisa seganas itu. 
Tapi aku bisa memaklumi. Aku bicara terus terang saja. Si rambut 
pirang itu cinta setengah mati pada Wiro. Dibilang janda di hadapan 
Wiro apa tidak sama saja dengan kiamat bagi gadis berambut pirang 
itu? Apa lagi dia pasti juga sudah menyirap kabar tentang 
kedatanganmu bersama Wiro menemui Kiai Gede Tapa Pamungkas. 
Kini semakin banyak penghalang baginya untuk mendapatkan 
pendekar itu. Kalaupun dia tidak kawin dengan Tubagus Kesumaputra 
tapi paling tidak dia sudah mau diajak ke Cirebon. Apa itu bukan 
berarti pengkhianatan kalau dia memang benar-benar mengasihi 
Wiro? Kalau tidak ada api mana mungkin muncul asap!” 

Lama Ratu Duyung terdiam mendengar ucapan Nyi Roro 
manggut. Akhirnya dengan suara perlahan Ratu Duyung berucap. 

“Memang aneh dan sangat kurang ajar sikap serta ucapan Nyi 
Harum Sarti. Tapi bagaimana dia bisa mengeluarkan ucapan seperti 
itu. Dari mana dia tahu? Apakah benar sahabat kita Bidadari Angin 
Timur janda dari Kepala Pengawal Kesultanan Cirebon bernama 
Tubagus Kesumaputra itu? Setahuku Tubagus Kesumaputra 
sebenarnya adalah pemuda bernama Jatilandak, putera Purnama. 
Purnama sendiri di negerinya dikenal dengan nama Luhmintari. Kalau 
Bidadari Angin Timur janda dari Kepala Pengawai, berarti mereka 
pernah kawin. Lalu kapan kawinnya?” 

“Hal siapa sebenarnya Tubagus Kesumaputra itu bagiku tidak 
jadi persoalan. Yang membuat cerita jadi panjang dan sangat 
membuat marah Bidadari Angin Timur ialah dari siapa Nyi Harum Sarti 
alias Ratu Laut Utara palsu mengetahui kalau Bidadari Angin Timur 
adalah seorang janda!” 

Ratu Duyung menatap wajah si nenek beberapa saat lalu 
meluncur ucapannya. “Aku ingat sekarang Nek. Ketika Nyi Harum Sarti 
meneriakkan kata-kata yang sangat memalukan itu, wajah Bidadari 
Angin Timur marah membesi. Rahang menggembung. Dua tangan 
terkepal. Dia seperti mau menguyah Nyi Harum Sarti sampai lumat 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

dari ujung rambut sampai ujung kaki. Namun sekilas aku melihat juga 
bagaimana dia melirik tajam penuh kebencian pada Purnama. Kalau 
ucapan Nyi Harum Sarti benar, aku yakin Bidadari Angin Timur punya 
prasangka atau tuduhan bahwa Purnamalah yang telah menebar 
fitnah...” 

“Bagaimana kalau itu bukan fitnah, tapi sebenarnya terjadi?” 
tanya Ratu Duyung yang agaknya terpengaruh dengan ucapan si 
nenek: Kalau tidak ada api mana mungkin muncul asap. (Mengenai 
kisah “jandanya” Bidadari Angin Timur harap baca episode sebelumnya 
berjudul “Badai laut Utara”) Lalu gadis cantik bermata biru itu 
menambahkan. “Kalau dipikir-pikir sebenarnya Purnama juga adalah 
seorang janda dari perkawinannya yang terputus dengan ayah 
puteranya yang bernama Jatilandak itu. Wiro tahu benar riwayat gadis 
itu.” 

Kepala si nenek manggut-manggut berulang kali. “Bidadari 
Angin Timur memang pernah lama tidak muncul sejak beberapa waktu 
belakangan ini. Kemana menghilangnya? Pergi ke Cirebon. Kawin di 
sana Lalu bagaimana ceritanya kemudian menjadi janda? Aneh!” 

“Aku sendiri pernah tahu Nek,” kata Ratu Duyung pula. 
“Jatilandak pernah menyelamatkan Bidadari Angin Timur ketika 
hendak diperkosa oleh satu mahluk dari negeri asalnya. Mahluk itu 
berjuluk Hantu Muka Dua. Memang agaknya rasa saling menanam 
budi cukup alasan kalau mereka mau menikah. Tapi mengapa kita 
para sahabat sampai tidak mengetahui peristiwa perkawinan itu?” 
(riwayat hampir diperkosa Bidadari Angin Timur oleh Hantu Muka Dua 
baca serial Wiro Sableng berjudul “RumahTanpa Dosa”). 

Nyi Roro Manggut kembali angguk-anggukan kepala. Sepasang 
matanya yang juling menatap ke arah pantai dimana berjejer 
beberapa perahu kayu dan jukung yang keadaannya sudah setengah 
lapuk karena lama ditinggalkan dan tidak dipergunakan lagi oleh 
pemiliknya. Dia kembali memandang ke langit. Lalu berkata. 

“Langit tampak hitam. Agaknya sebentar lagi hujan lebat akan 
turun disertai angin kencang. Mungkin badai.” 

Baru saja si nenek berkata begitu di langit sebelah barat kilat 
menyambar di susul gelegar guntur. 

Ratu Duyung tidak perdulikan keadaan cuaca yang berubah 
cepat. 

“Nyi Roro, aku ingin tahu mengapa tadi kita tidak langsung 
menuju ke pantai. Kau sengaja melewati jalan berputar yang lebih 
jauh. Mengapa kau berbuat begitu?” 

“Aku tidak ingin kehadiran kita di sini diketahui orang atau 
dilihat orang-orang itu...” 

“Orang-orang siapa maksudmu Nyi Roro Manggut?” tanya ratu 
Duyung pula. 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

“Bidadari Angin Timur dan Purnama.” 

“Bidadari Angin Timur sudah lebih dulu pergi dari kita. Tak 
mungkin masih berada di pulau ini.” 

Nyi Roro Manggut menggeleng. 

“Dia masih berada sekitar pulau ini. Dia tengah menunggu 
seseorang. Aku punya firasat sesuatu akan terjadi di sekitar tempat 
ini. Pasang matamu baik-baik dan pentang telingamu tajam-tajam. 
Sayang cermin saktimu sudah hancur. Tapi coba kau kerahkan Ilmu 
Menembus Pandang...” 

Baru saja si nenek keluarkan ucapan tiba-tiba dari balik sebuah 
pulau kecil muncul satu perahu. Penumpangnya mengenakan pakaian 
biru tipis, rambut pirang panjang melambai lepas tertiup angin. Sekalikali 
dia mencelupkan tangan ke dalam air. Perahu melesat deras di 
permukaan laut. Di satu tempat sejarak belasan tombak dari pantai 
perahu dihentikan, terombang ambing dipermainkan ombak kecil. 
Perlahan-lahan penumpang di atas perahu bangkit, tegak sambil 
rangkapkan dua tangan di atas dada. Mata menatap tajam ke arah 
pantai. 

“Bidadari Angin Timur...” bisik Ratu Duyung. 

“Benar,” sahut Nyi Roro Manggut. “Dia tengah menanti 
kedatangan seseorang. Orang itu aku yakin sebentar lagi akan berada 
di tempat ini. Aku harap Bidadari Angin Timur tidak mengetahui 
kehadiran kita di balik batu karang ini.” 

“Purnama!” tiba-tiba gadis berambut pirang berpakaian biru tipis 
yang berdiri di atas perahu di tengah laut berteriak lantang. “Aku tahu 
kau berada di tepi pantai. Jangan bersembunyi! Aku sudah cukup lama 
menunggu kemunculanmu! Cepat unjukkan diri! Ada yang perlu kau 
jawab sebelum aku menghabisi dirimu!” 

“Dugaanku tidak keliru!” kata Nyi Roro Manggut. “Tapi aku tidak 
menduga Bidadari AnginTimur punya dendam begitu hebat hingga dia 
ingin membunuh Purnama!” 

“Kau bilang apa yang terjadi sama dengan kiamat bagi gadis itu. 
Dan Purnama sangat tersangkut dengan kejadian tersebut.” Ucap Ratu 
Duyung pula. Dia berpaling ke kanan. “Aku mendengar desiran angin. 
Aku melihat sesuatu berkelebat di balik deretan pohon kelapa sebelah 
sana...” bisik Ratu Duyung. 

Saat itu juga terlihat seorang perempuan berpakaian biru pekat, 
rambut digulung di atas kepala, berlari laksana terbang ke arah 
pantai. Ternyata dia adalah Purnama alias Luhmintari ibu dari 
Jatilandak alias Tubagus Kesumaputra. 

Purnama angkat tangan kirinya ke arah Bidadari Angin Timur 
yang berada dia atas perahu. 

“Bidadari Angin Timur! Aku tahu kau akan menungguku. Aku 
tidak sembunyi. Justru aku memang ingin menemuimu agar bisa 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

diajak bicara! Antara kita mungkin telah terjadi kesalah fahaman!” 

“Bukan mungkin! Bukan juga kesalah fahaman! Seseorang telah 
menghina mempermalukan diriku akibat fitnah yang berasal dari 
mulutmu!” 

“Aku akan menerangkan padamu duduk perkaranya! Kita 
bersahabat sejak lama Aku tidak akan bermulut keji seperti yang kau 
duga. Sesuatu telah terjadi pada diriku!” 

“Perempuan liar dari negeri najis!” teriak Bidadari Angin Timur. 
“Jika kau memang ingin bicara sebelum kematianmu, tunjukkan 
kehebatanmu! Datang temui aku di sini! Kita bicara di tengah laut ini!” 

Ditantang begitu rupa Purnama tidak tinggal diam. Dia melirik ke 
arah deretan perahu di tepi pasir. Secepat kilat dia melompat 
mendekati salah satu perahu lalu mendorong ke dalam laut. Begitu 
berada di dalam air dia terus berenang sambil mendorong perahu. Dua 
gerakan kakinya yang sebat membuat perahu terdorong pesat di atas 
permukaan air. 

Ketika tinggal beberapa tombak lagi dari perahu yang 
ditumpangi Bidadari Angin Timur baru Purnama melompat ke atas 
perahu. Aneh, kepala, tubuh, dan pakaian tidak ada yang basah. Gadis 
ini telah melindungi tubuh dan pakaian dengan ilmu yang 
mengeluarkan cahaya biru bergemeriap. 

Begitu berdiri di atas perahu yang kini berdampingan dan hanya 
terpisah dengan perahu Bidadari Angin Timur sejarak dua jengkal, 
Purnama segera keluarkan ucapan. 

“Sahabatku Bidadari Angin Timur, kalau kita bicara aku harap 
kita bicara dengan kepala dingin walau hati panas...” 

“Hentikan bicara manismu!” Bentak Bidadari Angin Timur. 
“Antara kita tidak ada lagi jalinan persahabatan. Karena kau telah 
membuka aib diriku yang nyata-nyata adalah fitnah dan 
menyampaikannya pada Ratu Laut Utara keparat bernama Nyi Harum 
Sarti itu!” 

“Aku tidak mengingkari. Aku memang bicara tentang keadaan 
dirimu setelah gagalnya pernikahanmu dengan Kepala Pengawal 
Kesultanan Cirebon bernama Tubagus Kesumaputra itu! Nyi Harum 
Sarti berusaha mengorek banyak keterangan dariku. Dan aku bicara 
dalam keadaan pikiran tidak waras akibat ilmu Penyejuk Jiwa Pemikat 
Hati yang disirapkan seorang nenek anak buah Nyi Harum Sarti atas 
diriku...” 

“Aku tidak peduli ilmu setan apapun yang ditenungkan pada 
dirimu. Kau tidak bisa membantah kenyataan bahwa sumber fitnah 
yang sangat keji memalukan itu berasal dari mulutmu!” 

“Aku mengakui hal itu. Namun harap kau bisa mengerti...” 

“Tutup mulutmu! Jangan terlalu banyak bicara! Aku hanya ingin 
tahu satu hal lagi! Dari mana kau mengetahui peristiwa gagalnya 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

pernikahanku dengan Kepala Pasukan Kesultanan Cirebon yang 
sebenarnya adalah anak kandungmu sendiri!” 

“Berita baik berita buruk berjalan secepat angin bertiup,” jawab 
Purnama tanpa mau berterus terang siapa orang yang menjadi sumber 
cerita peristiwa itu. Seperti diketahui Purnama mendapat penjelasan 
langsung dari puteranya sendiri yaitu Jatilandak alias Tubagus 
Kesumaputra. “Kuharap kau mau bersikap penuh pengertian. Walau 
aku menyadari buruknya diriku ini aku sebenarnya adalah bekas 
mertuamu juga...” 

Mendengar kata-kata Purnama itu wajah Bidadari Angin Timur 
berubah merah. Rahang menggembung. Dada seperti mau meledak. 
Sepasang mata berkilat-kilat. Dari mulutnya menyembur tawa 
melengking panjang yang diakhiri dengan suara mendengus. 

“Perempuan jahanam! Kau bukan saja terpesat dari negeri 
hantu! Tapi juga membuat keonaran di tanah Jawa! Aku tidak pernah 
nikah dengan anakmu! Aku tidak pernah merasa jadi janda seperti 
yang kau fitnahkan!” 

“Bidadari Angin Timur, aku bersedia bersujud minta maaf 
padamu. Bukankah lebih baik kita lupakan saja persoalan ini? Semua 
terjadi bukan karena kemauan kita. Ini gara-gara kejahatan Ratu Laut 
Utara palsu bersama kaki tangannya!” 

“Hebat dan pandai sekali kau mencari kambing hitam!” Tukas 
Bidadari Angin Timur. “Memang bukan terjadi karena kemauankulTapi 
kemauan busukmu!” Teriak Bidadari Angin Timur. Kepala disentakkan. 

“Wutt!” 

Rambut pirang laksana tabasan golok menyambar ke arah leher 
Purnama. Jangankan leher manusia, patung batupun akan dibabat 
putus oleh tebasan rambut pirang yang berubah menjadi kaku keras 
laksana lempengan besi! 

Selagi Purnama menjauhkan diri untuk menghindari serangan 
Bidadari Angin Timur kembali lancarkan serangan susulan berupa 
pukulan tangan mengandung hawa sakti dan tenaga dalam tinggi! 

Bagi dua orang yang memiliki kepandaian yang sudah mencapai 
puncaknya, bertarung di daratan adalah satu hal yang biasa. Tapi 
berkelahi di atas perahu kayu yang mengambang di atas laut sungguh 
merupakan kejadian yang sangat langka. Walau memiliki kesaktian 
serta tenaga dalam tinggi, tapi jika tidak berbekal ilmu meringankan 
tubuh yang luar biasa, kedua petarung bisa sama-sama celaka! 

“Dukkk!” 

Tangan kanan Bidadari Angin Timur yang melancarkan pukulan 
ke arah dada beradu dengan lengan kanan Purnama yang dipergunakan 
untuk menangkis sekaligus dipakai mendorong sebagai serangan 
balasan. 

Dua gadis cantik sama-sama terpekik. Tangan bergetar hebat 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

dan membekas merah biru. Tubuh mereka serentak terhuyung ke 
belakang akibat keras beradunya dua tangan. Dalam keadaan seperti 
itu dengan gerakan kilat mengandalkan ilmu meringankan tubuh 
tinggi. Keduanya melompat ke udara. Sambil melayang turun untuk 
menjejakkan kaki di atas lantai perahu mereka kembali menabur 
serangan. 

Purnama melepas pukulan Menahan Raga Menyerap Tenaga. 
Dengan ilmu ini dia mampu membuat lawan menjadi lemas tak 
berdaya. Jelas gadis dari Latanahsilam ini tidak berniat untuk 
mencelakakan lawan. 

Sebaliknya Bidadari Angin Timur yang sudah nekad hendak 
menghabisi Purnama menghantamkan dua tangan ke arah lawan. Dua 
larik sinar biru berkiblat Ilmu kesaktian ini tidak bernama, Nyi Kuncup 
Jingga pernah mengatakan bahwa sambaran dua cahaya biru itu 
adalah Pedang Biru Liang Akhirat. (Baca “Cinta Tiga Ratu”) 

Laksana sepasang pedang, dua cahaya biru dengan ganas 
menyambar ke arah kepala dan dada Purnama. Bila dua cahaya biru 
mengenai sasaran maka kepala dan dada Purnama akan terbelah! 

Di saat bersamaan kilat kembali menyambung di langit dan 
guntur menggelegar dahsyat. Selagi dua gadis yang bertarung belum 
sempat menjejakkan kaki dan serangan masing-masing belum saling 
bentrokan tiba-tiba angin deras turun bergemuruh, bertiup dahsyat 
membuat air laut membuntal membentuk gelombang luar biasa besar! 

Dalam keadaan seperti itu dua buah perahu kayu tiba-tiba 
melesat dari arah pantai. Orang yang berperahu di sisi kanan 
berteriak. 

“Bidadari Angin Timur! Purnama! Jangan tolol bertarung 
melawan sahabat sendiri! Semua bisa diselesaikan dengan saling 
bicara!” 

Tapi gelombang luar biasa besar keburu menghantam. Empat 
perahu mencelat ke udara, hancur berkeping-keping. Nyi Roro 
Manggut cepat melesat menyambar tangan Bidadari Angin Timur 
sementara Ratu Duyung berusaha menggapai pinggang Purnama. 
Namun keduanya luput! Ketika gelombang kedua menyapu dan hujan 
serta angin menderu ganas sementara udara menjadi gelap, ke empat 
orang itu tidak kelihatan lagi! 

*** 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 


KETIKA Nyi Roro Manggut dan Ratu Duyung siuman, mereka 
dapatkan diri terbujur di atas pasir pantai Menjangan Kecil. 

“Astaga, apa yang terjadi dengan diriku!” ucap si nenek seraya 
bangkit duduk. Dia memandang dan meraba dada sendiri, merasa lega 
karena mengetahui Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru milik Nyai 
Roro Kidul masih berada dalam tubuhnya. Di sebelahnya duduk Ratu 
Duyung sambil mengibas-ngibas rambut yang basah, sepasang mata 
menatap ke arah laut yang kini berada dalam keadaan tenang. Di atas 
pasir keping kayu hancuran perahu bertebaran dipermainkan ujung 
ombak sementara langit cerah tak berawan. Sang surya condong jauh 
ke barat, memancarkan cahaya kekuningan pertanda saat itu hari 
telah sore. 

“Ada badai waktu kita hendak mencegah Bidadari Angin Timur 
dan Purnama saling berbunuhan.” Ratu Duyung keluarkan ucapan. 
“Nyi Roro, menurutmu apakah badai itu merupakan badai setan 
jejadian seperti yang kita alami sebelumnya?” 

“Jin pencipta badai yaitu Durna Rawana sudah menemui ajal. 
Yang tadi adalah badai sungguhan.” Jawab Nyi Roro Manggut. “Kita 
berdua tergeletak tak sadarkan diri cukup lama di tempat ini.” 

Ratu Duyung bangkit berdiri, menarap ke arah laut lepas. Selain 
pulau-pulau kecil dia tidak melihat apa-apa lagi. 

“Nek, hatiku sangat kawatir. Apa yang terjadi dengan Purnama 
dan Bidadari AnginTimur. Jangan-jangan selagi kita tergeletak pingsan 
di sini kedua orang itu telah saling berbunuhan. Sama-sama menemui 
ajal!” 

“Kalau mereka memang sama-sama sudah menemui ajal. Ada 
dua kemungkinan. Pertama tubuh mereka hancur berkeping-keping. 
Berarti kita tidak akan menemui jazad utuh mereka. Kemungkinan 
kedua jenazah mereka masih dalam keadaan utuh tapi tenggelam ke 
dasar laut. Paling cepat butuh waktu satu hari satu malam jenazah 
keduanya baru muncul mengambang di permukaan laut. Apakah kita 
akan menunggu? Kita masih banyak urusan penting yang harus segera 
dilaksanakan.” 

“Kita tidak bisa menunggu selama itu, Nek. Selain itu aku 
merasa sangat perlu menemui Wiro terlebih dulu.” 

Nyi Roro Manggut tidak menjawab melainkan menatap diam 
dengan matanya yang jereng ke arah laut 

“Apa yang ada dalam pikiranmu Nek?” tanya ratu Duyung. 

“Aku coba mengingat-ingat...” jawab si nenek pula. “Sewaktu 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

gelombang besar menghantam kita, yaitu sebelum kita mampu 
mencegah terjadinya saling serang pukulan sakti antara Purnama dan 
Bidadari Angin Timur, aku sekelebatan melihat satu benda putih 
panjang muncul dari dalam laut, melesat di dalam gulungan 
gelombang, menyambar ke arah kita...” 

“Aku tidak melihat benda itu Nyi Roro,” kata Ratu Duyung pula. 

“Bisa saja kau tidak melihat Namun aku berpikir, bila cuma 
gelombang besar yang menghantam kita, tidak mungkin kita sampai 
terkapar pingsan sekian lama di tepi pantai ini. Aku yakin benda putih 
panjang itulah yang melepas kekuatan dahsyat membuat kita 
terpental hingga tidak sadarkan diri.” 

“Kalau begitu ucapanmu, bisa saja dua sahabat kita itu telah 
mengalami celaka oleh benda itu. Tapi benda putih aneh itu mahluk 
apa gerangan?” 

“Aku punya dugaan. Tapi kawatir kalau kesalahan...” ucap si 
nenek perlahan. 

“Katakan saja padaku Nek. Masa kau tidak percaya aku akan 
menjaga rahasia?” 

“Nanti saja. Ini bukan perkara percaya atau tidak percaya.” 
Jawab Nyi Roro manggut. 

Sambil meraba pinggang pakaian di bagian dimana dia 
menyimpan gulungan Pedang Naga Suci 212 Ratu Duyung berkata. 

“Kalau begitu sebelum matahari tenggelam sebaiknya kita 
kembali dulu ke bukit menemui Wiro dan Bujang Gila Tapak Sakti. Lalu 
dengan mengandalkan Batu Mustika Sakti bersama-sama kembali ke 
daratan Jawa...” 

Mendadak ucapan ratu Duyung terputus. Gadis itu terpekik. 

“Ada apa?!” tanya Nyi Roro Manggut tersentak kaget. 

“Pedang Naga Suci!” sahut Ratu Duyung dengan wajah berubah 
pucat. “Pedang sakti bergulung itu lenyap! Sebelumnya aku simpan di 
balik pinggang sini!” 

“Celaka! Pasti ada yang mencuri ketika kita dalam keadaan 
pingsan!” Si nenek lalu membantu memeriksa dan mencari senjata 
sakti itu namun tidak berhasil ditemukan. 

Ratu Duyung terduduk lemas di atas pasir. Mengusap wajah 
berulang kali. “Apa yang akan kita lakukan sekarang? Kemana harus 
mencari pedang sakti itu? Senjata itu titipan orang, bukan milikku! Ah 
mengapa musibah buruk selalu datang tidak berkeputusan. 
Sebelumnya batu mustika sakti. Kini pedang sakti...” 

“Kita sedang apes,” ujar Nyi Roro Manggut pula. “Pedang itu 
bukan cuma sekedar titipan, tapi lebih penting dari itu adalah tanda 
ikatan jodohmu dengan murid Sinto Gendeng.” 

Ratu Duyung diam saja. Wajahnya yang tadi pucat kini bersemu 
merah mendengar kata-kata si nenek. Ucapan Nyi Roro Manggut 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

membuat hatinya jadi tambah gelisah tambah kawatir. 

“Bagaimana kalau kita menyelidik dulu ke bukit kecil di dalam 
pulau? Siapa tahu Wiro masih ada di sana.” Ratu Duyung akhirnya 
berkata. 

Kedua orang itu segera kembali ke atas bukit tempat dimana 
mereka sebelumnya bertemu dengan Ratu Laut Utara Nyi Harum Sarti 
dan Ratu Sepuh. Namun mereka tidak menemui siapapun di situ. 
Bahkan patung Wiro dan Nyi Harum Sarti juga telah musnah berubah 
menjadi kepingan bertabur sama rata di atas tanah. Sesaat setelah 
matahari tenggelam dan malam segera turun Nyi Roro Manggut 
berkata. 

“Kita sudah mencari hampir di seluruh pulau kecil ini. Kau telah 
mengerahkan ilmu Menembus Pandang. Tapi sia-sia saja semua 
usaha. Tidak seorangpun ada di pulau ini. Lebih baik kita kembali ke 
pantai selatan.” 

“Nyi Roro, kau berangkatlah duluan ke Kerajaan Laut Selatan. 
Temui Nyi Roro Kidul dan sampaikan permohonan maafku. Aku tidak 
bisa ikut bersamamu. Aku harus mencari dan menemukan Pedang 
Naga Suci Dua Satu Dua terlebih dulu.” 

Nyi Roro Manggut terdiam mendengar ucapan Ratu Duyung itu 
lalu bertanya.”Kau mau mencari kemana pedang sakti itu?” 

“Aku juga tidak tahu Nyi Roro. Mudah-mudahan Yang Maha 
Kuasa memberi petunjuk.” 

“Dengar ratu Duyung.” Ucap si nenek sambil pegang bahu gadis 
bermata biru. “Dugaanku ada dua kemungkinan. Pedang itu memang 
dicuri orang ketika kau tergeletak pingsan di atas pasir. Atau bisa juga 
terlempar jatuh ke dalam laut sewaktu kita dihantam gelombang besar 
dan kibasan benda putih panjang.” 

“Aku akan berusaha menyelidik. Apapun yang terjadi Pedang 
Naga Suci Dua Satu Dua harus didapatkan kembali.” 

“Aku bisa mengerti tindakanmu. Aku akan memberi tahu Nyai 
Roro Kidul apa yang terjadi. Aku pergi Sekarang. Hati-hatilah...” 

Ratu Duyung mengangguk. 

“Kau juga hati-hati Nek,” kata si gadis. 

Nyi Roro Manggut letakkan tangan kanannya di atas dada 
dimana tersimpan Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru. Sekati dia 
menghentakkan kaki kanan ke atas pasir pantai, tubuhnya melesat ke 
udara lalu melayang laksana terbang ke arah selatan. 

APA yang terjadi dengan Purnama dan Bidadari Angin Timur? 
Pada saat badai muncul dan gelombang besar menghantam, baik 
Purnama maupun Bidadari Angin Timur telah sama-sama sempat 
melepas pukulan sakti. Purnama melancarkan pukulan Menahan Raga 
Menyerap Tenaga yang tidakakan mencelakai lawan, hanya sekedar 
membuatnya tidak berdaya. Sebaliknya Bidadari AnginTimur yang 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

membekal amarah serta dendam kesumat besar menghantam dengan 
serangan mematikan yaitu pukulan ilmu Pedang Biru Liang Akhirat. 

Walau saat badai menghantam dan membuat kedua gadis itu 
sama-sama terlempar namun serangan mereka lepas masih sempat 
menghajar ke arah lawan. Akibatnya memang sangat berbahaya. Yaitu 
Bidadari Angin Timur akan lemas tak berdaya seluruh tubuh 
sementara Purnama bisa jadi menemui ajal paling tidak ada bagian 
tubuhnya yang terbabat putus atau terkoyak lebar! 

Pada saat itulah benda putih panjang muncul dari dalam air laut, 
berkelebat ke atas di antara dua gadis yang barusan sama-sama 
melepas pukulan sakti. Kibasan dahsyat benda putih itu sanggup 
membuat Bidadari Angin Timur dan Purnama terpental lebih jauh. 
Meskipun demikian dua gadis tetap mengalami cidera. 

Bidadari Angin Timur menjerit keras ketika dia merasa tubuh 
sebelah kanannya mulai dari ujung jari tangan sampai ke bahu dan 
terus ke kaki menjadi lemas tak bisa digerakkan lagi. Ketika 
gelombang besar menghantam dirinya tak ampun gadis ini amblas 
masuk ke dalam laut. Walau dia memiliki ilmu bisa bertahan lama di 
dalam air yang didapat dari Kiai Gede Tapa Pamungkas namun dalam 
keadaan separuh tubuh cidera berat seperti itu dia tak mungkin 
menggantungkan nyawanya pada ilmu tersebut Ketika megap-megap 
muncul di permukaan air, dia berusaha dan masih sempat menggapai 
dengan tangan kiri sekeping papan pecahan perahu. Dia tidak 
menyadari kalau ada benda melekat di atas kepingan papan yang kini 
menjadi gantungan hidupnya itu. Lalu gelombang kembali 
menghantam tubuhnya hingga terpental dan diseret jauh ke arah 
barat. 

Akan halnya Purnama, gadis dari alam gaib 1200 tahun silam ini 
dalam keadaan terpental masih sanggup selamatkan diri dari salah 
satu cahaya biru yang menyambar ke arahnya. Namun sambaran 
cahaya biru kedua tak mampu dielakkan. Laksana pedang membabat 
cahaya biru masih sempat menyambar pinggulnya sebelah kiri. Darah 
mengucur dari luka besar di pinggul. Air laut sekitar situ tampak 
kemerahan. Dia sulit menggerakkan diri, apa lagi berusaha berenang 
mencapai pantai. Sebelum pingsan gadis ini berusaha sedapatnya 
melafatkan ajian bernama Empat Penjuru Air Alam Gaib. Dengan ilmu 
ini, jika dia mampu membacakan manteranya sampai selesai maka 
tubuhnya akan mengambang di atas air. Berarti kehidupannya kini 
tinggal tergantung kemana arus air laut membawa menghanyutkan 
tubuhnya. 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 


MALAM Jum'at Kliwon di tanah Jawa. Malam Jum'at yang sama di 
Pulau Andalas. Langit cerah tak berawan, dihias bulan sabit. Saat itu 
lewat tengah malam. Di tepi Danau Maninjau, di atas sebuah batu 
datar dialas selembar kulit kambing putih, Datuk Rao Basaluang Ameh 
baru saja selesai melakukan sembahyang tahajud dan siap berzikir 
ketika tiba-tiba di kejauhan terdengar alunan suara serunai memecah 
kesunyian malam. 

Sang Datuk angkat kepala. Wajah berubah, hati tercekat, dada 
berdebar. Perlahan mulutnya berucap. 

“Puluhan tahun aku tidak pernah mendengar suara bebunyian 
itu. Apakah dia yang meniup? Apakah dia yang datang? Ah, 
mungkinkah dia masih hidup? Adakah kerinduan yang tersemat di 
hatiku juga ada di hatinya hingga dia datang ke sini?” 

Datuk Rao Basaluang Ameh duduk tak bergerak. Mengambil 
sikap menunggu sambil sepasang matanya yang biru menatap ke arah 
jauh di kegelapan dari mana datangnya suara tiupan serunai yang 
mendayu berhiba-hiba, menimbulkan perasaan haru di lubuk hati 
Datuk Rao Basaluang Ameh. Orang tua yang konon adalah setengah 
roh manusia dan telah menemui kematian seratus tahun silam ini 
pegang saluang yaitu seruling khas Minang yang terbuat dari emas 
dan terselip di pinggang. Perlahan-lahan dia tarik saluang ini lalu 
ujungnya ditempelkan ke bibir. Sesaat kemudian suara tiupan saluang 
menggema di udara malam, menimpali dan saling bersahutan dengan 
suara serunai. Seolah-olah dua mahluk gaib yang tengah memadu 
kasih. Di tengah Danau Maninjau, permukaan air tampak bergetar, 
membentuk gelombang-gelombang halus yang beriringan berarak ke 
tepian danau. 

Untuk beberapa lama dua suara dua bebunyian itu saling 
bersambut indah di keheningan malam. Begitu menyentuh hati 
sehingga tanpa sadar butir-butir air mata meluncur jatuh di pipi Datuk 
Rao Basaluang Ameh. Tangannya yang memegang saluang bergetar 
dan tiupannya sesekali tertahan-tahan. Jauh di kegelapan ada suara 
tersendat seperti orang menahan isak dan bersamaan dengan itu 
suara tiupan serunai terdengar turun naik tak menentu. 

Perlahan-lahan Datuk Rao Basaluang Ameh turunkan tangan. 
Saluang emas diletakkan di atas pangkuan. Mata terus menatap ke 
arah kegelapan. Mulut berucap gemetar. 

“Laras Parantili. Jika memang kau yang datang perlihatkanlah 
dirimu. Jangan membuat diriku sesak seperti dikurung dalam keranda 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

besi yang hendak ditenggelamkan ke dasar Danau Maninjau.” 

Suara tiupan serunai di kegelapan berubah perlahan lalu lenyap 
sama sekali, tak lama kemudian kelihatan seseorang melangkah 
keluar dari balik deretan pohon-pohon Kayu Manis berusia ratusan 
tahun. Orang itu berjalan ke arah batu besar di tepi danau dimana 
Datuk Rao Basaluang Ameh duduk lalu berhenti. Sang Datuk masih 
belum bisa melihat jelas. Hatinya berkata. “Datanglah lebih dekat agar 
aku bisa melihat dirimu...” 

Seperti terdengar suara hati sang Datuk, orang dalam gelap 
lanjutkan langkah, mendatangi. Hanya sejarak dua belas langkah dari 
tempatnya duduk, Datuk Rao Basaluang Ameh kini tak ragu lagi. Dia 
benar-benar mengenali siapa orang yang datang ini. Bukan saja dari 
raut wajahnya tapi juga dari pakaian yang dikenakan. 

“Allah Maha Besar! Aku memanjatkan beribu syukur! Laras 
Parantili! Benar kau yang datang rupanya!” 

Datuk Rao Basaluang Ameh segera berdiri. Saluang Ameh 
diselipkan di pinggang.Tongkat kayu putih miliknya yang tadi 
tergeletak di atas tikar kulit kambing diambil lalu cepat turun dari atas 
batu. 

Dua belas langkah di hadapannya berdiri seorang perempuan 
tua bertubuh tinggi semampai berambut putih perak, disanggul rapi 
dihias sesusun sunting rendah terbuat dari suasa. Wajahnya bujur 
telur berhidung mancung. Walau banyak kerut dan sepasang mata 
agak sembab tanda habis menangis, wajah itu bersih dan masih 
membayangkan kecantikan dimasa muda. Sehelai selendang biru 
bergelung di leher, menjulai ke dada. Perempuan tua itu mengenakan 
kebaya panjang dalam menyerupai jubah berwarna kuning gelap, 
penuh dengan taburan sulaman bunga yang terbuat dari sulaman 
benang perak. Di bawah kebaya panjang kuning dia mengenakan 
sehelai celana panjang berwarna hitam. Di tangan kanan, sambil 
diletakkan di atas dada dia memegang sebuah serunai, yaitu 
bebunyian menyerupai suling tapi agak menggembung dan berkeluk di 
bagian tengah. 

Untuk beberapa lama dua orang itu hanya saling bertatapan. 
Kemudian Datuk Rao melangkah mendekati namun dua langkah di 
hadapan perempuan tua itu dia berhenti. Jika menurutkan perasaan 
hati, saat itu juga sang Datuk ingin sekali memeluk erat perempuan 
tua berwajah cantik itu. 

“Laras Parantili, ini kebesaran Tuhan yang paling indah. Aku 
tidak menyangka kau akan datang. Ah... Berapa tahun kita tidak 
pernah berjumpa? Sepuluh... dua puluh... empat puluh tahun...” 

“Setengah abad Datuk. Setengah abad kita tak pernah saling 
bertemu...” menjawab perempuan tua bernama Laras Parantili. 

“Setengah abad. Benar sekali. Aku benar-benar berbahagia. 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

Kalau bukan langkah Tuhan yang membimbingmu kemari tentu kita 

tidak berjumpa malam ini.” 

“Disitulah rahasia Kebesaran Allah,” kata Laras Parantili. 

“Sejuta puji sejuta syukur!” ucap Datuk Rao Basaluang Ameh. 
“Laras, mari kita bicara di atas rumah gadang gonjong lima. Aku tidak 
tahu kau datang dari mana.Tapi yang pasti datang dari tempat yang 
jauh. Kau pasti lelah. Kau perlu secangkir minuman panas untuk 
menghangatkan diri. Selain itu kau tentu butuh istirahat...” 

Laras Parantili tersenyum. Dia menatap ke arah kejauhan 
dimana terlihat sebuah rumah panggung besar beratap ijuk dengan 
gonjong berbentuk tanduk kerbau sebanyak lima buah. 

“Terima kasih, Datuk. Kau tetap baik dan lembut seperti yang 
sudah-sudah. Kalau kau tidak keberatan, biar kita bicara di sini saja. 
Aku tidak ingin mengganggu ketenangan tidur para penghuni gadang.” 

Mendengar ucapan orang, Datuk Rao Basaluang Ameh maklum 
kalau si nenek datang membawa suatu maksud dan maksud itu ingin 
disampaikan secara cepat. Berarti dia tidak akan lama melihat 
perempuan yang selama fni selalu dirindukannya itu. 

“Laras Parantili, aku tidak akan memaksa kau agar mau naik ke 
rumah gadang. Namun kalau boleh aku bertanya sudilah mengatakan 
gerangan maksud kedatanganmu. Apakah ini menyangkut hubungan 
kita masa lalu?” 

“Datuk... pembicaraan kita mungkin akan sampai di sana. 
Namun berterus terang aku katakan, kedatanganku membawa satu 
kabar serta tujuan besar.” 

Sekilas harapan membayang di wajah Datuk Basaluang Ameh. 

“Aku gembira mendengar hal itu. Katakanlah. Jika memang 
perlu kita rundingkan maka akan segera kita bicarakan saat ini juga.” 

“Datuk, ketahuilah bahwa kedatanganku membawa satu amanat 
dari alam gaib, menyangkut mahluk titisan...” 

Datuk Rao Basaluang Ameh tatap wajah Laras Parantili. 
Wajahnya membayangkan tanda tanya. 

“Kau pasti belum mengerti. Biar aku lanjutkan ucapan,” kata si 
nenek pula sambil membetulkan gelungan selendang biru di lehernya. 
“Aku tahu di dalam rumah gadang tempat kediamanmu saat ini ada 
seorang anak perempuan berusia menjelang dua tahun. Bernama Ken 
Permata.” 

Datuk Rao Basaluang Ameh sembunyikan keterkejutannya 
dengan tersenyum. “Lima puluh tahun tidak bertemu, lima puluh 
tahun tidak pernah datang, bagaimana begitu muncul Laras Parantili 
mengetahui kalau dirumahku ada seorang anak perempuan berusia 
hampir dua tahun bernama Ken Permata.” Sebelum sempat orang tua 
ini mengatakan sesuatu, si nenek bermuka bulat sudah lebih dulu 
lanjutkan ucapan. 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

“Anak perempuan itu adalah puteri dari seorang Tumenggung di 
tanah Jawa bernama Wira Bumi yang kemudian menjadi Patih 
Kerajaan. Nasib buruk sang Patih, dia tewas di tangan tokoh persilatan 
golongan putih. Istrinya, ibu dari Ken Permata bernama Nyi Retno 
Mantili, saat ini masih hidup tapi dalam keadaan tersiksa sengsara 
karena telah kehilangan ingatan warasnya. Konon perempuan itu 
masih berada di tanah Jawa.” 

“Dia tahu banyak tentang Ken Permata dan kedua orang 
tuanya,” ucap Datuk Rao dalam hati. Lalu pada si nenek dia berkata. 
“Laras, tadi kau menyebut-nyebut soal titisan...” 

“Ceritaku akan sampai ke sana Datuk.” Jawab si nenek pula 
dengan suara tenang penuh kesabaran sementara sebaliknya Datuk 
Rao ingin cepat-cepat mengetahui apa sebenarnya maksud semua 
ucapan dan kedatangan si nenek. 

“Datuk, nasib anak perempuan bernama Ken Permata itu 
mungkin akan sama buruk dengan apa yang terjadi dengan ibunya 
jika tidak ada seseorang yang mau turun tangan dan menolong 
menghindarkan kejadian itu...” 

Datuk Rao yang tidak sabaran langsung memutus ucapan 
dengan bertanya. “Lalu apakah kedatanganmu adalah sebagai orang 
yang hendak menolong anak perempuan itu?” 

“Aku tak kuasa menolong, aku hanya orang yang ketitlpan 
amanat agar anak perempuan itu dapat menerima titisan yang bakal 
datang atas dirinya. Bagaimana perjalanan hidupnya nanti Yang Maha 
Kuasalah yang akan menentukan...” 

“Laras parantili, terus terang aku masih belum jelas akan semua 
apa yang kau katakan ini. Roh siapa yang akan menitis ke dalam diri 
Ken Permata? Kapan hal itu akan terjadi?” 

“Roh yang akan menitis berasal dari diri seorang perempuan 
usia empat puluh tahun bernama Nyi Harum Sarti. Seorang 
perempuan yang pernah menduduki tahta Kerajaan Laut Utara sebagai 
Ratu namun tewas tiga hari yang lalu.” 

“Kapan penitisan akan terjadi?” tanya Datuk Rao yang kini 
menjadi tampak tegang. 

“Malam ini. Dan aku dibebankan amanat agar petitisan itu 
terjadi dengan sebaik-baiknya tanpa halangan.” 

“Laras, kau mengatakan roh yang akan menitis ke dalam diri 
Ken Permata adalah roh seorang ratu dari Kerajaan Laut Utara yang 
tewas tiga hari lalu.” 

“Betul sekail Datuk.” Jawab Laras Parantili. 

“Kalau kau mengatakan dia tewas maka aku mempunyai dugaan 
Ratu itu menemui kematiannya secara tidak wajar. Dibunuh 
Orang?”tanya Datuk Rao. 

“Soal kematiannya, dibunuh atau bukan, siapa yang membunuh 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

rasanya tidaklah penting Datuk. Jika penitisan terjadi maka Ken 
Permata setelah usianya mencapai tahun ke tiga kelak akan memiliki 
dasar-dasar ilmu kepandaian tingkat tinggi seperti hawa sakti, tenaga 
dalam, tenaga luar dan sebagainya.” 

“Kalau yang masuk ke dalam diri anak itu adalah ilmu hitam, 
apakah ada manfaatnya?” tanya Datuk Rao Basaluang Ameh. 

“Ilmu putih ilmu hitam tergantung bagaimana seseorang 
mempergunakannya. Sekalipun menguasai ilmu putih tapi jika 
digunakan untuk kejahatan maka akan berarti orang itu telah merubah 
ilmu putih menjadi ilmu hitam.” 

Datuk Rao Basaluang merenung beberapa ketika. Dalam hati 
orang tua ini membatin. 

“Tadinya aku mengira dia datang untuk berbaik-baik 
membicarakan hubungan di masa lalu. Ternyata membekal sesuatu 
maksud yang tidak aku duga. Kalau dia memang ketitipan amanat, 
dirinya memang tidak bisa disalahkan. Tapi bagaimana hal ini bisa 
terjadi?” 

“Laras, sebelum aku mengizinkan terjadinya penitisan itu, aku 
minta waktu untuk lebih dulu menyelidiki siapa Nyi Harum Sarti itu 
sebenarnya...” 

“Datuk, mungkin kita tidak punya banyak waktu lagi. Seperti 
kataku tadi, penitisan tadi akan terjadi malam ini.” Jawab si nenek 
cantik bernama Laras Parantili sambil menatap ke langit lepas di atas 
danau. 

“Laras, ketahuilah, kesembuhan penyakit jiwa ibu Ken Permata 
yang bernama Nyi Retno Mantili itu adalah jika dia berhasil 
menemukan puterinya. Jika sebelum pertemuan si anak sudah 
ketitisan roh orang lain, aku kawatir seandainya terjadi pertemuan 
mungkin sekali kesembuhan tidak akan terjadi. Nyi Retno Mantili akan 
sengsara seumur-umur. Saat ini cucu muridku Pendekar Dua Satu Dua 
Wiro Sableng tengah berusaha mencari Nyi Retno Mantili dan 
membawanya ke Danau Maninjau ini. Untuk dipertemukan dengan 
puterinya.” 

“Datuk, aku mengerti kekawatiran Datuk, jawab Laras Parantili 
pula. “Namun apakah Datuk juga memikirkan. Kalau penitisan tidak 
terlaksana maka akan dua orang yang menderita sengsara yaitu Ken 
Permata dan Nyi Retno Mantili.” 

“Aku tidak sependapat denganmu Laras. Sekarang bukankah 
lebih baik kita membicarakan soal lain saja...” 

Laras Parantili tersenyum. Senyum yang membuat Datuk Rao 
Basaluang Ameh merasa berbunga-bunga hatinya. 

“Kalau itu maumu, baiklah Datuk,” kata si nenek pula. Lalu dari 
balik pakaian kuningnya dia mengeluarkan sebuah kotak kecil berbalut 
kain beludru merah yang telah kusam dan koyak di beberapa sudut 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

pertanda kotak ini sudah agak usang dimakan umur. 

Melihat kotak yang dipegang Laras Parantili bercahayalah wajah 
Datuk Rao. 

“Kotak beludru merah. Dia masih menyimpannya. Berarti dia 
datang benar-benar karena masih mengingat hubungan kasih sayang 
di masa muda. Sekali ini dia tidak akan aku biarkan pergi kemanamana 
lagi.” Kata Datuk Rao dalam hati. “Laras, aku merasa bahagia 
kau masih mendambakan diriku...” 

Namun semua rasa senang bahagia orang tua sakti ini serta 
merta sirna ketika Laras Parantili berkata. 

“Datuk, puluhan tahun aku membawa kotak ini kemana aku 
pergi. Kujaga baik-baik, seolah aku membawa nyawaku sendiri. Di 
dalamnya masih tersimpan dua cincin kuning terbuat dari batu Giok. 
Para tetua kita dulu mengharapkan suatu ketika dua cincin itu akan 
saling kita jadikan kalung di leher masing-masing sebagai pertanda 
ikatan perjodohan. Namun setelah setengah abad berlalu apa yang 
pernah diharapkan tidak pernah terjadi. Aku di timur kau di barat. Aku 
di selatan kau di utara. Aku membawanya kali ini dengan penuh 
perasaan sedih. Karena aku akan menyerahkan kotak berisi dua cincin 
Batu Giok ini padamu. Lebih baik kau yang menyimpannya. Aku harap 
kau menjadi maklum, penyerahan dua cincin ini sebagai pertanda 
bahwa kita memang tidak saling berjodoh.” 

Datuk Rao Basaluang Ameh seperti dihenyakkan ke bumi. Langit 
seolah runtuh menimpa kepalanya. 

“Laras, tunggu dulu. Jangan kau berkata begitu. Malam ini 
adalah malam berkat Tuhan Yang Maha Besar. Kau datang membawa 
sepasang cincin. Bukankah ini berarti bahwa kita memang saling 
berjodoh walau harus menunggu sampai setengah abad?” 

Datuk Rao tidak berani menerima kotak beludru merah. 

“Datuk, aku senang mendengar kata-katamu. Kalau saja katakata 
itu kau ucapkan lima puluh tahun yang lalu. Sebaiknya kau buka 
dulu kotak itu. Lihat dan periksa, apakah benar dua cincin Giok kuning 
masih ada di dalamnya dan apakah dalam keadaan baik, tidak retak 
tidak gumpil?” 

“Aku yakin kau telah menjaga kotak ini baik-baik. Aku percaya 
dua buah cincin Giok kuning tidak kurang suatu apa.” 

Datuk Rao lalu mengambil kotak beludru merah dari tangan 
Laras Palantili dan membuka penutupnya. Begitu tutup kotak dibuka 
menyemburlah asap kuning pekat berbau busuk. Asap langsung 
memasuki jalan pernafasan sang Datuk. Orang sakti ini cepat totok 
dua urat besar dipangkal lehernya namun terlambat. Asap beracun 
telah melewati tenggorokan dan mengancing dua paru-parunya. 
Sebelum jatuh pingsan Datuk Rao Basaluang Ameh keluarkan suara 
menggembor lalu roboh ke tepi Danau Maninjau. Mulut lelehkan cairan 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

kuning! 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 


TERANG dan hangatnya cahaya mentari pagi menyadarkan Datuk rao 
Basaluang Ameh dari pingsannya. Telinganya menangkap suara kicau 
burung. Orang tua ini batuk-batuk beberapa kali, muntah-kan cairan 
kuning. Terhuyung-huyung dia mencoba bangun. Dua kaki sulit 
digerakkan. Akhirnya dia mampu duduk bersila. Pejamkan mata, tarik 
dan hembuskan nafas panjang berulang kali. Hawa sakti dialirkan, 
tenaga dalam dikerahkan. Ada denyutan rasa sakit di dada. Agaknya 
masih ada racun asap kuning yang mengendap dalam tubuhnya. 
Orang tua itu duduk bersila luruskan dada. Dua telapak tangan 
ditekankan ke tanah. Sesaat kemudian perlahan-lahan tubuhnya 
melayang naik ke udara. Pada ketinggian lima belas jengkal dari tanah 
tubuh ini berbalik lalu menukik turun, kaki ke atas kepala ke bawah. 

Begitu kepala menyentuh tanah Datuk Rao Basaluang menotok 
urat besar di dada kiri kanan, pangkal leher serta kedua pelipisnya. 
Saat itu juga ada hawa aneh menyedot dari dalam tanah. Inilah cara 
orang sakti ini menguras racun yang mendekam dalam tubuhnya. 
Selain mengandalkan kemampuan sendiri juga meminjam kekuatan 
bumi. Cairan kuning meleleh keluar dari mata, hidung, telinga dan 
mulut. Setelah itu tubuhnya melayang naik kembali, membalik di 
udara turun dengan kaki lebih dulu. 

Orang tua sakti ini telah terlepas dari bahaya besar yakni 
lumpuh seumur hidup akibat racun jahat kuning! 

“Laras Parantili. Tidak kusangka setega ini hati dan perbuatanmu 
terhadapku...” ucap sang Datuk dalam hati. Dia berdiri dengan lutut 
masih terasa goyah, memandang berkeliling. Perempuan itu tak ada 
lagi. Lalu dia melihat kotak beludru merah tergeletak di tanah. Cepat 
dihampiri dan diperiksa. Kotak ternyata dalam keadaan kosong. Tak 
ada dua cincin Giok kuning. 

“Laras, kau memang tidak membunuhku.Tapi apa yang kau 
telah lakukan sama saja membuat aku mati dalam hidupku. Ini lebih 
menyakitkan dari kematian sesungguhnya.” 

Tiba-tiba orang tua itu ingat. 

“Ken Permata. Anak itu...!” 

Secepat kilat Datuk Rao menghambur ke arah rumah gadang. Di 
langkan depan rumah dia menemukan harimau sakti putih besar 
Datuk Rao Bamato Hijau terbaring mendengkur di lantai. 

“Tidak biasanya Datuk tidur di tempat ini. Sesuatu telah terjadi 
dengan dirinya...” Datuk Rao cepat memegang kepala binatang itu, 
mengusap beberapa kali lalu meniup keningnya. Tiba-tiba harimau 
putih menggoreng keras dan melompat bangun. Sepasang matanya 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

yang hijau menatap ke arah Datuk Rao. Sesaat kemudian harimau 
putih ini rundukkan kepala sambil menggoreng halus, mencium kaki 
Datuk Rao. 

“Datuk, aku tahu, aku tahu sesuatu telah terjadi. Ada seseorang 
menyirapmu, membuat dirimu tertidur tak berdaya. Dan kau mengaku 
salah...” 

Datuk Rao kembali mengusap kepala harimau putih lalu dia 
melangkah ke arah sebuah kamar di tengah rumah gadang. Di dalam 
kamar dia menemukan Mande Saleha, perempuan yang merawat dan 
menjaga Ken Permata terbaring tertelungkup di lantai papan dekat 
pintu. Tangan kanannya terjulur seperti hendak menggapai sesuatu. 
Ken Permata sendiri, anak perempuan yang biasa tidur dalam 
pelukannya tidak ada di dalam kamar itu.Tempat tidur beralas kasur 
tinggi dua jengkal kosong. 

Datuk Rao tepuk punggung Mande Saleha sampai perempuan 
berusia hampir setengah abad ini terbangun. Begitu matanya nyalang, 
mulutnya langsung berteriak. 

“Datuk! Saya mohon ampunmu...” 

“Tenang Saleha. Katakan apa yang terjadi.” Kata Datuk Rao 
Basaluang Ameh pula. “Dimana Ken Permata?” 

“Malam tadi Datuk...” jawab Mande Saleha setengah menahan 
tangis. Lalu perempuan ini menerangkan. “Malam tadi Ken Permata 
sudah tidur. Saya masih mengawang-awang, belum bisa memicingkan 
mata. Tiba-tiba entah mengapa bulu kuduk saya terasa meremang. 
Saya merasakan ada seorang lain dalam kamar. Saya bangun. 
Memandang berkeliling. Pandangan saya bertumbuk dengan sosok 
seorang perempuan berambut putih. Dia tegak tak bergerak di sudut 
sana. Tubuhnya tinggi. Mengenakan baju panjang kuning berbunga 
perak. Dia memakai sunting pendek. Ada selendang biru menggelung 
di lehernya. Meski takut saya masih mampu bertanya menanyakan 
siapa dirinya. Dia tidak menjawab. Tangan kanannya diangkat, dua 
jari dituding lurus. Lalu saya melihat ada larikan sinar kuning keluar 
dari sela jarinya. Saat itu juga saya menggelinding jatuh dari kasur. 
Meski saya masih sadar namun saya tidak bisa bersuara. Sebagian 
dari tubuh saya, yang sebelah kiri terasa berat. Lalu perempuan tua 
membuka jendela lebar-lebar. Saat itu saya melihat satu cahaya putih 
menyilaukan datang dari luar, masuk ke dalam kamar melalui jendela. 
Cahaya ini menyelubungi tubuh Ken Permata. Beberapa kali saya lihat 
tubuh anak Itu terangkat ke atas. Lalu cahaya putih lenyap seolah 
habis diserap masuk oleh Ken Permata. Sebelum jatuh pingsan saya 
berusaha mencegah tapi tak berhasil.” Selesai memberikan penjelasan 
Mande Saleha menangis sejadi-jadinya. “Ini kali yang kedua kejadian 
seperti ini...” katanya di antara tangisnya. (Baca “Bayi Satu Suro” 
dimana Ken Permata diculik oleh Wira Bumi dan Nyai Tumbal Jiwo). 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

“Saleha, hentikan tangismu. Kalau musibah sudah ditakdirkan 
datang, tidak ada yang bisa mencegah. Aku akan mencari anak itu...” 

Tiba-tiba di kejauhan terdengar suara anak menangis. 

“Datuk...Itu suara Ken Permata...”Ucap Mande Saleha. 

Tidak ditunggu lebih lama Datuk Rao Basaluang Ameh melompat 
keluar rumah lewat jendela yang terbuka. Berkelebat ke arah 
terdengar suara tangisan anak kecil. Harimau putih besar 
mengikuti.Tangisan itu ternyata hanya datang dari dalam goa batu 
pualam yang menjadi tempat kediaman sekaligus pertapaan Datuk 
Rao. Ken Permata ditemukan duduk tersandar di dinding goa, 
menangis menjerit-jerit. Ketika melihat Datuk Rao Basaluang Ameh, 
anak ini hentikan tangis. Dua matanya yang bening menatap 
memperhatikan si orang tua. 

Datuk Rao melihat pancaran aneh keluar dari mata anak 
perempuan itu. Juga caranya memandang terasa tidak seperti 
biasanya. 

“Cucuku, kau bermain jauh sekali. Mande Saleha sampar 
menangis mencarimu. Mari kita pulang ke rumah gadang.” Datuk Rao 
dukung Ken Permata, melangkah cepat kembali ke rumah bergonjong 
sambil membelai punggung si anak. 

“Tubuh anak ini ringan sekali. Tidak seperti biasanya...” kata 
Datuk Rao dalam hati ketika melangkah sambil menggendong Ken 
Permata. 

Sampai di dalam rumah Ken Permata diberikan pada Mande 
Saleha yang menyambut si anakdengan menangis keras tapi kali ini 
merupakan tangis bahagia. Sementara Mande Saleha mendukungnya 
Datuk Rao Basaluang Ameh memeriksa keadaan Ken Permata. Mulamula 
diperiksa bagian punggung dan kepala sebelah belakang. Lalu 
diteliti wajahnya serta tangan dan kaki. Tidak ditemui kelainan. Datuk 
Rao menyuruh Mande Saleha membaringkan Ken Permata di atas 
kasur. Dada diperiksa. Tetap tidak ada hal yang mencurigakan.Tapi 
ketika sang datuk menyingkapkan pakaian di bagian perut Ken 
Permata disitulah dia melihat tanda biru pada pusar si anak. 

Datuk Rao Basaluang Ameh picingkan kedua mata. Menarik 
nafas panjang berulang kali. Hatinya membatin. 

“Titisan telah terjadi. Melewati pusar anak ini. Pusar adalah 
lambang pintu yang senantiasa tertutup. Kalau ada yang mampu 
membuka maka itu akan terjadi sekali seumur hidup. Berarti aku, atau 
siapapun tidak bisa mengeluarkan roh dari mahluk yang telah menitis 
masuk ke dalam tubuh anak ini. Ya Tuhan, ya Robbi. Yang buruk 
selalu datang dari kami manusia jelata. Yang baik selalu datang dari 
diriMu. Berilah semua kebaikan pada diri anak ini. Lindungilah dia 
dalam segala usia, pada segala tempat dan pada setiap kurun waktu.” 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 


BEBERAPA minggu setelah peristiwa di Pulau Menjangan Kecil. Pada 
masa itu dunia perdagangan antara pulau Jawa dan Pulau Andalas 
mengalami kemajuan pesat. Tidak mengherankan kalau Selat Sunda 
setiap hari siang maupun malam dilayari oleh perahu-perahu dagang 
besar membawa berbagai macam barang dagangan dan bahan 
mentah termasuk rempah-rempah. Beberapa negeri asing ikut 
meramaikan perdagangan dengan mengirim perahu-perahu layar 
besar. Kota-kota pelabuhan di pesisir utara pulau Jawa dan pesisir 
selatan pulau Andalas berkembang menjadi pelabuhan besar dan 
penting. Kehidupan rakyat yang dulunya hanya bertani maupun jadi 
nelayan kini banyak yang membuka usaha, ikut berdagang. Tingkat 
kehidupan penduduk menjadi jauh lebih baik dari pada yang sudahsudah. 


Namun keadaan itu berubah ketika jalur lintas pelayaran Selat 
Sunda diganggu oleh kaum perompak atau bajak laut. Dengan perahuperahu 
layar kecil berkecepatan tinggi mereka menghadang kapalkapal 
dagang, mengeroyok dan menjarahnya di tengah lautan. Konon 
para perompak memiliki senjata api berupa bedil yang mereka rampas 
dari orang-orang Portugis. Beberapa waktu sebelumnya memang 
terjadi kejahatan di tengah laut. Namun tidak sesering dan sehebat 
belakangan ini. Kabarnya para perompak yang mencari mangsa di 
kawasan Selat Sunda itu dilakukan oleh komplotan besar. Dan yang 
membuat seluruh kawasan menjadi geger konon mereka memiliki 
pimpinan baru seorang perempuan yang dikenal dengan panggilan 
Janda pulau Cingkuk. Sejak perempuan yang kabarnya memiliki ilmu 
silat serta kesaktian tinggi dan disebut Janda pulau Cingkuk itu 
menjadi pimpinan kaum perompak walau kejahatan mereka tambah 
merajalela namun jarang sekali ada korban yang terbunuh. Paling 
banyak hanya terluka, itupun tidak parah. 

Akibat dari terjadinya penjarahan di tengah laut yang tidak 
berkeputusan ini arus pelayaran kapal dagang di Selat Sunda hari 
demi hari jadi jauh berkurang. Perdagangan merosot jatuh. Yang 
paling dirugikan bukan saja para pedagang dan pemilik kapal layar 
tapi juga penduduk di sepanjang pesisir utara pulau Jawa sebelah 
barat dan pesisir selatan pulau Andalas yang selama ini mencari 
tambahan mata pencaharian dari ramainya perdagangan antar pulau 
dan antar negeri itu. 

Sepak terjang para perompak yang dipimpin oleh janda Pulau 
Cingkuk itu akhirnya sampai ke pusat Kesultanan Banten. Banten yang 
punya hubungan dagang berupa jual beli lada dengan para petani dan 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

pedagang di pulau Andalas sebelah selatan menderita kerugian paling 
besar karena belasan kapal-kapal dagang Kerajaan yang membawa 
lada dirompak di tengah laut. 

Sultan memanggil para pembantunya. Dicari jalan bagaimana 
cara untuk dapat menumpas para perompak. Diputuskan, sebelum 
tindakan diambil perlu dilakukan penyelidikan rahasia tentang 
kekuatan lawan. Siapa saja pimpinan mereka selain Janda Pulau 
Cingkuk serta dimana pusat persembunyian mereka. Sekitar dua belas 
orang berkepandaian tinggi disebar sebagai mata-mata, menyamar 
melakukan tugas itu. 

Dari dua belas orang yang berangkat hanya delapan yang 
kembali. Yang empat orang tidak diketahui kemana raibnya atau apa 
yang terjadi dengan diri mereka; 

Berdasarkan penuturan delapan orang yang kembali menghadap 
Sultan Banten didapat keterangan bahwa para perompak bermarkas di 
sebuah pulau kecil yang oleh para nelayan disebut Pulau Cingkuk. 
Jumlah mereka sekitar dua belas orang. Kecuali Janda Pulau Cingkuk 
tidak terdapat seorang perempuan pun di pulau itu. Ada dugaan 
bahwa para perompak yang tentunya mempunyai anak istri itu 
mempunyai pemukiman rahasia di pulau lain dekat Pulau Cingkuk 
dimana keluarga mereka tinggal. Sebelum para perompak bermukim 
di sana, tentunya pulau itu hanya dihuni ratusan kera berbulu coklat. 
Para nelayan yang jarang berhenti di pulau itu menyebut kera-kera itu 
dengan nama cingkuk karena sepanjang hari binatang-binatang itu 
selalu mengeluarkan suara riuh kuk...kuk...kuk. Sejak itu pulau 
tersebut dikenal dengan nama Pulau Cingkuk. 

Letak Pulau Cingkuk agak tersembunyi di antara gugusan pulaupulau 
kecil di Selat Sunda, tepatnya di selatan Pulau Rakata Kecil dan 
di utara Pulau Rakata Besar. Menurut para mata-mata bilamana 
Kesultanan Banten mengirim pasukan besar untuk menumpas kaum 
perompak kemungkinan mereka akan terjebak. Karena waktu mereka 
lewat akan sangat mudah menjadi bulan-bulanan serangan. Apa lagi 
kalau para perompak memang benar memiliki senjata yang bisa 
berdentam dan mampu membunuh dari jarak jauh yaitu yang disebut 
bedil atau senapan. Korban yang jatuh diantara kedua belah pihak 
akan-berjumlah besar. 

Mengenai pemimpin yang bernama Janda Pulau Cingkuk 
diketahui dia seorang perempuan bertubuh tinggi semampai, 
berpakaian serba merah. Kepala sampai ke rambut ditutup selendang 
merah, wajah dilindungi cadar merah. Sebegitu jauh tidak ada 
seorangpun anak buahnya yang tahu siapa nama perempuan Ku 
sebenarnya. Juga tidak pernah ada yang melihat wajahnya. Namun 
dari gerak gerik, bentuk tubuh serta suaranya agaknya dia masih 
sangat muda dan kemungkinan sekali memiliki wajah cantik. 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

Diberitahukan pula bahwa perempuan itu selain punya ilmu silat dan 
kesaktian serta gerakan cepat laksana kilat hingga dianggap bisa 
menghilang, dia juga memiliki sebilah pedang sakti berwarna hijau 
yang disebut Pedang Lumut Batu. Menurut cerita ketika pertama kali 
menundukkan Hang Damar Hantu Laut Selat Sunda yang menjadi 
pimpinan kaum perompak, Janda Pulau Cingkuk pergunakan pedang 
sakti dan berhasil mengalahkan pimpinan bajak laut itu bersama 
hampir dua ratus anak buahnya. Dalam pertempuran hebat tidak ada 
lawan yang terbunuh sementara Hang Damar Hantu Laut Selat Sunda 
hanya tergores luka lengan kirinya. Menyadari kehebatan perempuan 
itu yang kalau mau bisa membunuhnya, Hang Damar Hantu Laut Selat 
Sunda yang telah berusia enam puluh lima tahun menyatakan 
menyerah dan tunduk tanpa ada rasa dendam sama sekali. Dia 
merasa memang sudah saatnya kedudukan sebagai kepala bajak laut 
digantikan oleh orang lain yang lebih muda dan berkepandaian tinggi. 
Hanya saja Hang Damar Hantu Laut Selat Sunda tidak pernah 
menyangka kalau penggantinya adalah seorang perempuan penuh 
misteri. 

Sejak Janda Pulau Cingkuk memegang tampuk pimpinan 
gerombolan bajak laut terjadi banyak perubahan pada diri para 
perompak. Mereka yang tadinya bertampang sangar memelihara 
kumis lebat dan cambang bawuk lebat serta berambut gondrong, kini 
rata-rata berwajah klimis. Cara bicara dan sikap mereka yang selama 
ini kasar kini tampak sopan dan lembut. Selain itu mereka sekarang 
lebih suka mengenakan pakaian putih-putih dari pada pakaian serba 
hitam. Ikat kepala kain merah diganti dengan daster atau belangkon 
bahkan banyak yang memakai peci hitam. 

Terbetik pula berita bahwa sebagian besar hasil rampokan di 
tengah laut ternyata disumbangkan kepada ratusan penduduk miskin 
di berbagai tempat dalam bentuk uang serta makanan. Yang paling 
banyak menerima sumbangan tersebut adalah penduduk di bagian 
selatan Pulau Andalas dan bagian Pulau Jawa terutama rakyat Banten. 

“Janda Pulau Cingkuk,” kata Sultan pula menyebut nama 
pimpinan bajak laut yang malang melintang di Selat Sunda itu. 
“Perempuan yang penuh rahasia. Dia menjadi kepala gerombolan 
bajak laut. Namun dibaiik kejahatannya dia berbuat kebaikan. Ini 
seperti cerita seribu satu malam. Dia banyak membantu rakyat miskin 
termasuk rakyat Banten. Kita tidak bisa mengambil tindakan 
sembarangan atas dirinya. Tapi bagaimanapun kejahatan harus 
dihentikan...” 

Sultan mengusap dagu, merenung sejenak lalu bertanya pada 
delapan orang yang duduk di hadapannya. “Ada diantara kalian yang 
mengetahui siapa dan berasal dari mana perempuan bernama Janda 
Pulau Cingkuk itu adanya? Dia tidak mungkin muncul secara tiba-tiba.” 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

Tidak ada yang menjawab karena memang tidak ada yang tahu. 

“Ada yang pernah melihat wajahnya?” tanya Sultan lagi. 

Delapan orang yang ditanya gelengkan kepala. 

Sultan Banten tersenyum seolah saat itu yang dibicarakan 
bukanlah satu masalah besar, satu komplotan rampok beranggota 
ratusan orang, yang telah menjarah puluhan kapal pedagang milik 
Kesultanan Banten dan membuat Kerajaan kehilangan hasil 
perdagangan lada dengan daerah di kawasan selatan Pulau Andalas. 

“Baiklah, pertemuan aku nyatakan selesai.” Kata Sultan Banten 
pula. “Kalian semua boleh pergi dan beristirahat disertai ucapan terima 
kasihku. Ramanda Maulana Yusuf, harap Ramanda tetap di sini dulu. 
Ada yang akan saya bicarakan.” 

Setelah delapan orang itu pergi, sultan Banten berpaling pada 
Maulana Yusuf, seorang tua arif bijaksana berusia tujuh puluh tahun 
yang selama ini menjadi penasehat Sultan. Dalam banyak hal Suitan 
memperlakukan orang tua ini sebagai ayahnya sendiri. 

“Ramanda, mendengar semua keterangan orang kita tadi, saya 
tidak akan menempuh jalan kekerasan. Saya merasa ada sesuatu 
dibalik semua kejahatan yang terjadi. Terutama sejak perempuan 
bernama Janda Pulau Cingkuk itu menjadi pimpinan kaum perompak.” 

“Sri Paduka Sultan telah mengambil sikap sangat bijaksana. 
Saya sangat mengharap agar jangan sampai terjadi pertumpahan 
darah atau jatuh korban,” ucap Maulana Yusuf. “Mungkin kita bisa 
mengundang Hang Damar Hantu Laut Selat Sunda untuk datang kesini 
dan bicara mewakili pimpinannya. Saya cukup kenal dirinya sebelum 
dia jadi kepala perompak.” 

“Itu rencana bagus. Tapi kalau Ramanda setuju saya ada 
rencana lain,” kata sultan Banten pula. 

“Kalau saya diberi tahu dan jika saya diberi kepercayaan saya 
bersedia menjalankan rencana itu.” 

“Saya belum akan memberi tahu sebelum menerima petunjuk 
serta keredohan Allah Yang Maha Kuasa. Malam ini saya akan 
melakukan tirakat. Sholat tahajud, berzikir dan berdoa. Mudahmudahan 
Tuhan memberi petunjuk. Menjelang pagi tunggu saya di 
halaman mesjid kecil.” 

MALAM itu kawasan Istana Kesultanan Banten diselimuti 
kesunyian. Di luar tembok Istana hanya ada beberapa perajurit yang 
meronda sementara di dalam istana tidak ada satu orang pengawalpun 
kelihatan bertugas. Ini satu pertanda betapa tingginya tingkat 
keamanan di Kotaraja dan sekitarnya, sekaligus merupakan petunjuk 
bahwa Kesultanan Banten berada dalam keadaan damai tenteram dan 
Sang Raja yang tahu bagaimana rakyat mencintai dirinya tidak merasa 
kawatirakan keselamatannya. 

Di dalam kawasan tembok Istana terdapat sebuah mesjid kecil. 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

Disitulah setiap saat Sultan Banten melakukan sholat lima waktu, 
berdoa dan berzikir serta melaksanakan sembahyang sunat lainnya. 
Acap kali pula Sultan mengajak permaisuri dan putera puterinya 
sembahyang bersama berjamaah. Di mesjid itu pula Sultan Banten 
sering mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Kuasa, terutama pada 
saat-saat Sultan membutuhkan petunjuk atas setiap rencana yang 
akan dilakukannya. 

Sementara Sultan Banten masih berada dalam mesjid, di 
halaman dibawah kerindangan satu pohon besar, di atas sehelai tikar 
putih, Maulana Yusuf dengan sabar menunggu Sultan menyelesaikan 
permohonannya pada Yang Maha Kuasa untuk dberikan petunjuk 
dalam menghadapi komplotan perampok pimpinan Janda Pulau 
Cingkuk. 

Bertepatan dengan kokok ayam jantan pertama pertanda hari 
telah pagi dan fajar tak lama lagi segera akan menyingsing, Maulana 
Yusuf melihat Sultan keluar dari mesjid kecil. Orang tua ini segera 
berdiri, menggulung tikar lalu melangkah menemui Sultan. 

“Ah, Ramanda tentu sudah sangat lama menunggu saya,” Sultan 
Banten menyapa lebih dulu. 

“Apakah Sri Paduka Sultan sudah mendapatkan petunjuk dari 
Allah Yang Maha Pengasih?” Maulana Yusuf langsung ajukan 
pertanyaan. 

Sultan pegang bahu orang tua itu lalu berkata. 

“Tolong Ramanda panggilkan pangeran Aji Triyasa.” 

“Pangeran Aji Triyasa?” Maulana Yusuf mengulang nama itu. 

Sultan mengangguk. 

“Pergilah, saya menunggu di sini. Kalau dia datang kita bicara di 
dalam mesjid.” 

Walau merasa heran karena tidak bisa menduga apa hubungan 
sang pangeran Aji Triyasa dengan persoalan yang tengah dihadapi 
namun si orang tua melakukan apa yang dikatakan Sultan. 

Aji Triyasa adalah putera adik lelaki Sultan, berarti dia adalah 
keponakan Sultan. Usianya baru dua puluh dua tahun. Selain bertubuh 
tegap perkasa dan berwajah tampan dia memiliki ilmu silat dan 
kesaktian tinggi karena konon selama dua belas tahun digembleng 
oleh seorang kiai sakti di puncak Gunung Karang dalam berbagai ilmu 
termasuk ilmu keagamaan. Sejak kecil Aji Triyasa lebih dekat dengan 
Suitan dari pada ayah kandungnya. Kepada Sultan pemuda itu sangat 
hormat dan patuh. Gagah tampan, memiliki ilmu silat dan kesaktian 
tinggi, mendalami ilmu agama serta budi pekerti baik membuat Sultan 
memiliki rasa sayang yang berlebihan atas diri keponakannya itu. 

Kegagahan Pangeran yang dekat dengan rakyat ini konon telah 
tersiar ke berbagai penjuru hingga menjadi kerinduan banyak gadis 
yang ingin melihat diri dan menatap langsung wajahnya. Yang merasa 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

cantik apa lagi puteri bangsawan atau pejabat Kesultanan tentu saja 
berharap bisa menambat hati sang pangeran dan membawanya ke 
pelaminan. Sebegitu jauh Pangeran AjiTriyasa belum diketahui telah 
memiliki seorang gadis yang menjadi pilihan buah hatinya. 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 


ENAM orang perompak yang masing-masing berlindung di balik 
kelebatan pohon bakau di dua pulau kecil mengapit arus laut jalan 
masuk menuju Pulau Cingkuk menatap dengan mata besar tak 
berkesip ke arah sebuah perahu yang tengah meluncur perlahan di 
atas permukaan air laut. 

Sang penumpang duduk di sebelah belakang perahu, di atas 
bangku yang menyatu dengan badan perahu. Orang itu ternyata 
adalah pemuda berambut panjang sekuping, mengenakan blangkon 
biru. Kepala merunduk, dada serta bahu terlihat bidang dan kokoh. 
Saat itu pemuda yang mengenakan baju lengan panjang dan celana 
putih-putih sederhana itu tengah asyik membaca kitab keagamaan 
bertuliskan huruf Arab gundul berjudul “Kasih Allah Sepanjang Zaman, 
Kasih Ibu Sepanjang Jalan, Kasih Anak Sepanjang Penggalan.” Gaya 
sikap pemuda itu seperti seseorang yang tengah pesiar berjalan-jalan. 
Pemandangan laut di kawasan itu memang indah dengan beberapa 
pulau kedi bertebaran dimana-mana. Sesekali sekawanan burung 
terbang melayang rendah di atas permukaan air laut lalu naik 
membumbung ke udara. 

Apakah si pemuda tidak menyadari kalau saat itu dia berada di 
kawasan sarang kediaman Janda Pulau Cingkuk, pimpinan bajak laut 
Selat Sunda yang ditakuti? 

Demikian asyiknya pemuda ini membaca kitab hingga dia tidak 
sadar kalau perahu akan melewati dua pulau kecil apitan menuju 
Pulau Cingkuk. Dia juga unjukkan sikap tenang ketika ada suara suitan 
bersahutan lalu menyusul suara bentakan menggeledek. 

“Orang di atas perahu! Hentikan perahu! Berputar balik! 
Tinggalkan kawasan ini!” 

Si pemuda angkat kepala, menatap ke pulau sebelah kanan dari 
mana tadi datangnya suara membentak. Dia mendengar bentakan 
namun tidak melihat siapa-siapa. Maka enak saja dia meneruskan 
menikmati bacaannya. 

“Kami sudah memperingatkan! Kau berpura tuli! Terima 
nasibmu!” Kembali terdengar orang membentak. Kali ini diikuti gelegar 
suara letusan! 

Perahu kecil yang ditumpangi pemuda berblangkon biru 
bergoncang. Namun dengan sentuhan ringan tangan kiri si pemuda 
pada pinggiran kiri, perahu itu kembali mengapung tenang. 

“Suara apa itu? Baru sekali ini aku mendengar.” 

Ucap si pemuda dalam hati. Dia memandang ke pulau kecil di 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

kiri kanan. Kali ini matanya segera melihat orang-orang yang 
berlindung di balik semak belukar dan pohon bakau. Pemuda itu 
memandang ke lantai perahu ketika merasa dua kakinya yang 
mengenakan kasut kulit sapi basah dan dingin. Ternyata air laut sudah 
memenuhi lantai perahu, menggenang sampai ke mata kaki. Pemuda 
itu membungkuk memperhatikan. Dia melihat ada sebuah lobang 
sebesar lingkaran jari telunjuk dan ibu jari tangan pada dinding perahu 
sebelah depan sekitar setengah jengkal di atas lantai perahu. Dari 
lobang itulah air laut mengucur masuk. 

“Bunyi letusan dan lobang di perahu. Apakah ada 
hubungannya?” Pemuda itu berpikir. Lalu dengan tangan kiri dia 
mematahkan ujung kayu yang ada di bagian depan atas perahu yang 
di pahat begitu rupa seperti kepala kerbau. Sekali tangan kirinya 
meremas maka kayu yang keras itu menjadi bongkahan lunak, mudah 
dibentuk seolah berubah menjadi lilin. Oleh si pemuda bongkahan 
kayu disumbatkan ke dalam lobang hingga air laut berhenti mengucur 
masuk. 

“Aman sekarang,” kata si pemuda. Dia kembali duduk di bagian 
belakang perahu. Kitab dibuka lalu kembali membaca. Belum lama 
membaca mendadak empat buah perahu masing-masing ditumpangi 
tiga orang lelaki berpakaian serba putih telah menghadang. 

Salah satu dari dua belas orang itu menahan bagian depan 
perahu si pemuda dengan kaki kiri sementara yang lain-lain tegak 
menghunus golok, enam orang menarik gendewa siap 
menghamburkan panah dan seorang lagi tegak sambil mengarahkan 
moncong sebuah besi panjang bergagang kayu yang bukan lain adalah 
sepucuk bedil. 

Pemuda di atas perahu perhatikan kedua belas orang itu. Tidak 
seorangpun diantara mereka memiliki wajah angker. Juga tidak ada 
yang memelihara cambang bawuk dan rambut panjang. Kebanyakan 
dari mereka mengenakan pakaian putih gunting Cina serta kopiah 
hitam. 

“Eh, apakah mereka ini bajak laut perompak anak buah Janda 
Pulau Cingkuk? Aneh! Tidak satupun dari mereka berwajah seram.” Si 
pemuda berkata dalam hati. Saat itu kitab yang tadi dibaca sudah 
dilipat dan dikempit di ketiak kanan. 

Lelaki yang memegang bedil di atas perahu terdepan arahkan 
mulut senjatanya ke dada si pemuda. 

“Kami sudah memerintahkan agar kau meninggalkan kawasan 
ini! Mengapa berpura tuli!” 

“Ki sanak, mohon dimaafkan. Saya datang ke sini tidak 
membawa maksud buruk. Tadi mungkin saya terlalu asyik membaca.” 

Beberapa orang memperhatikan bagian bawah perahu yang 
telah disumbat sambil berpikir-pikir dengan apa dan bagaimana 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

pemuda itu mampu menyumbat perahu yang bolong. 

Lelaki memegang bedil memberi tanda pada kawan-kawannya. 
Perahu bergerak lebih mendekati perahu si pemuda hingga kini ujung 
bedil bisa ditempelkan ke dada kiri si pemuda, tepat di arah jantung. 

“Anak muda, aku dan kawan-kawan tidak perduli apa maksud 
kedatanganmu ke sini. Kau sudah mendengar apa perintah kami. Ini 
kawasan terlarang bagi siapa saja. Putar perahumu, tinggalkan tempat 
ini. Atau aku akan membuat satu lobang besar di dadamu!” jari 
telunjuk orang yang memegang pemicu bedil bergerak-gerak turun 
naik, siap melepaskan tembakan. 

“Ki sanak harap mau bersabar dulu. Saya akan terangkan 
maksud kedatanganku ke sini!” Kata si pemuda dengan suara perlahan 
dan sikap tenang. 

“Kami tidak perlu keteranganmu!” Lelaki di perahu sebelah 
kanan membentak. “Jagran! Lekas kau tembak saja! Tunggu apa lagi?! 
Atau aku akan suruh teman-teman menembus tubuhnya dengan enam 
anak panah sekaligus. Pemuda ini bicara manis tapi aku tahu dia 
sangat berbahaya!” Jagran adalah orang yang memegang bedil. 
Agaknya dia yang jadi pimpinan diantara rombongan orang-orang itu. 

Tidak peduli apa yang diucapkan orang si pemuda mengambil 
kitab yang ada dikempitan tangan kanan, membuka lalu mengambil 
secarik lipatan kertas yang ada di salah satu bagian kitab. 

“Saya datang membawa surat untuk disampaikan pada seorang 
paman bernama Barat Sanjaya. Beliau tinggal di Pulau Cingkuk. Paling 
tidak beliau ada di kawasan ini.” 

Jagran berpaling ke arah kawan-kawannya yang sebelas orang. 
Semua menggelengkan kepala. 

Tidak ada yang bernama Barat Sanjaya di Pulau Cingkuk! Jangan 
mengarang cerita! Lekas putar perahumu atau kutembak sekarang 
juga.” 

“Ki sanak, saya yakin kau pasti mampu membunuh saya. Apa 
lagi dengan senjata berbentuk aneh yang mampu mengeluarkan suara 
keras berdentam itu.” Sambil berkata si pemuda usap-usap besi bedil 
dengan tangan kiri. “Saya tidak percaya tidak ada yang bernama Barat 
Sanjaya di Pulau Cingkuk. Kata mereka yang pernah melihat, 
orangnya tinggi besar, dulu memelihara rambut sepinggang, dijalin 
dan digulung di atas kepala. Memelihara cambang bawuk meranggas 
serta berkumis lebat melintang. Memiliki sepasang mata besar dan 
merah. Kesukaannya selalu bertelanjang dada. Dada penuh otot dan 
berbulu. Di bagian kiri dada ada jarahan gambar tengkorak dengan 
tulang bersilang.” Si pemuda diam sebentar, memperhatikan wajah 
dua belas orang disekitamya. Dia dapat melihat perubahan pada wajah 
orang-orang itu. Malah secara sembunyi-sembunyi ada yang saling 
berbisik. “Nah, apakah orang dengan ciri-ciri seperti yang saya 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

katakan itu benar-benar tidak ada di Pulau Cingkuk?” 

Dua belas orang termasuk Jagran tidak menjawab, tidak 
bersuara. 

“Jika semua ki sanak di sini tidak ada yang kenal dengan Barat 
Sanjaya baiklah, saya akan memberi tahu. Orang itu juga dikenal 
dengan nama Hang Damar Hantu Laut Selat Sunda.” 

Semua kepala tertegak. Semua mata membesar. 

“Anak muda, kau ini siapa sebenarnya?!” tanya Jagran masih 
dengan suara keras membentak. 

“Saya hanya seorang santri yang bodoh dari kesultanan Banten. 
Jika kalian tidak mengizinkan saya menemui paman Barat Sanjaya 
atau Hang Damar Hantu Laut Selat Sunda tidak jadi apa. Tapi tolong 
sampaikan surat ini pada beliau. Jika beliau nanti mencari saya, 
katakan bahwa saya sudah pergi sesuai dengan perintah ki sanak di 
sini.” 

Sehabis berkata begitu pemuda berpakaian putih berblangkon 
biru ulurkan lipatan kertas pada Jagran seraya berkata “Jangan lupa 
mengatakan pada paman Barat Sanjaya atau Hang Damar Hantu Laut 
Selat Sunda. Surat ini datang dari Panembahan Maulana Yusuf, orang 
tua di Kesultanan Banten yang sudah dianggap sebagai kakak sendiri 
oleh paman Hang Damar Hantu Laut Selat Sunda.” 

Mendengar ucapan si pemuda semua orang terutama Jagran 
yang memegang bedil jadi terkejut dan berubah wajahnya. Ada 
bayangan rasa takut. 

“Anak muda, aku akan ambil surat ini dan serahkan pada 
pimpinan kami. Tapi kau jangan kemana-mana. Tunggu di sini. Aku 
akan memberi tahu kedatanganmu pada Hang Damar Hantu Laut Selat 
Sunda. Kami tidak tahu kalau nama sebenarnya Hang Damar adalah 
Barat Sanjaya. 

Jagran dan dua temannya satu perahu segera tinggalkan tempat 
sementara sembilan orang di atas tiga perahu tetap berada di tempat 
itu, di atas perahu masing-masing. Sikap mereka tidak lagi garang dan 
penuh curiga. Golok sudah diselipkan di pinggang. Busur digantung di 
bahu dan anak panah dimasukkan ke dalam sarangnya. 

Tak selang berapa lama Jagran dan tiga kawannya muncul. Dia 
atas perahu kini, disebelah depan berdiri seorang lelaki tinggi besar 
bertelanjang dada penuh bulu, hanya mengenakan celana putih dan 
sabuk kulit hitam besar. Dua tangan dirangkap di depan dada. 
Sepuluh jari tangan berwarna hitam sampai ke ujung kuku. Pada dada 
kiri ada jarahan berupa tengkorak bersilang dua tulang. Sepasang 
mata menatap lurus ke depan. Rambut panjang dijalin dan disusun di 
atas kepala. Kumis tebal melintang, dagu tertutup janggut tipis rapi, 
tidak memelihara berewok atau cambang bawuk. Melihat raut wajah 
usianya sudah cukup lanjut, sekitar enam puluh lima tahun. 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

Kurang satu tombak dari perahu orang ini tiba-tiba melesat. Di 
lain saat dia telah berdiri di bagian depan perahu yang ditumpangi 
pemuda berblangkon biru. Walau tubuhnya besar namun ketika 
kakinya menginjak lantai perahu, perahu kayu kecil itu sama sekali 
tidak bergoyang, air laut tidak bergelombang! 

Sungguh dia memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat! 

Begitu berhadapan dengan orang tinggi besar ini pemuda 
berblangkon biru segera menunduk dan memberi salam. 

“Paman Hang Damar yang juga saya kenal dengan nama Barat 
Sanjaya, salam sejahtera untukmu. Assalam'mualaikum...” 

Si tinggi besar bertelanjang dada penuh bulu sesaat terdiam. 
Sudah lama sekali dia tidakdisalaml orang seperti itu. Kalau 
sebelumnya ada rasa tidak senang pada pemuda itu kini perasaan itu 
jadi mengendur. Setelah menyahuti salam Aji Triyasa, Hang Damar 
Hantu Laut Selat Sunda bertanya. 

“Anak muda, apakah kau yang membawa surat ini?” Suara si 
tinggi besar ini keras dan serak tapi tidak menunjukkan keberangasan. 

“Benar sekali Paman,” jawab si pemuda. 

Dipanggil paman untuk kedua kalinya Hang Damar Hantu Laut 
Selat Sunda tersenyum 

“Saya mohon maaf kalau kedatangan saya telah mengganggu 
ketenangan dan ketentraman paman.” 

“Kau sendiri apa hubunganmu dengan Panembahan Maulana 
Yusuf?” 

“Saya hanya seorang santri.” Jawab si pemuda pula. 

“Santri?” Dua alis Hang Damar naik ke atas.”Anak buahku 
memberi tahu kau mampu menambal lobang besar di dinding perahu 
dengan menghancurkan kayu perahu, apakah ilmu kepandaian seperti 
itu diajarkan pada para santri di Banten?” 

“Mohon maaf paman. Saat itu memang saya takut sekali. Tetapi 
Allah menolong saya. Saya tidak sadar telah melakukan apa karena 
setengah mati takut tenggelam.” 

Hang Damar Hantu Laut Selat Sunda tatap sepasang mata si 
anak muda, tersenyum lalu membuka lipatan surat yang dibawanya, 
membacanya sekali lagi dan berkata. 

“Dalam surat ini, kakakku Panembahan Maulana Yusuf memang 
tidak mengatakan siapa dirimu. Dia hanya bilang agar aku bisa 
mempertemukanmu dengan pimpinan kami. Janda Pulau Cingkuk. 
Sekarang katakan siapa kau sebenarnya?” 

“Paman, maaf kalau saya menolak menjawab. Tapi saya akan 
mengatakan siapa saya hanya kepada pimpinan paman.” 

Hang Damar perhatikan si pemuda mulai dari blangkon sampai 
ke ujung kaki yang tersembunyi di balik genangan air laut di lantai 
perahu. Dalam hati bekas pimpinan perompak ini membatin. 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

“Sikapnya memang sikap seorang santri. Sopan bersahaja. 
Sepasang tangannya halus seperti tangan perempuan. Wajah bersih 
seperti paras seorang gadis. Namun dibalik semua ini aku merasa ada 
satu kekuatan dahsyat dalam tubuhnya. Aku pernah satu kali melihat 
wajah Sultan Banten yang gagah dan cakap. Jangan-jangan...” 

“Paman, apakah saya diperkenankan menemui pimpinan?” 
Bertanya si pemuda. 

Hang Damar menyeringai, lalu tertawa. Makin lama tawanya 
makin keras hingga perahu bergoncang keras, air laut mendadak 
membuntal. Hampir tidak kelihatan telapak tangan kirinya menekan ke 
bawah ke arah air laut. Tiba-tiba dari bawah air laut bergulung 
gelombang besar. Saat itu juga perahu dimana kedua orang itu berada 
melesat terpental ke udara! 

Jagran dan anak buahnya berseru kaget menyaksikan apa yang 
terjadi kemudian. Perahu yang mental ke udara terbelah dua lalu jatuh 
kembali ke dalam laut. Pada salah satu belahan perahu tegak berdiri 
Hang Damar Hantu Laut Selat Sunda. Sementara pemuda berblangkon 
biru tidak kelihatan, tapi tampak ada tangan kiri yang mencuat ke atas 
permukaan laut memegang kitab.Tak lama kemudian muncul kepala si 
pemuda, megap-megap berusaha berenang mencapai belahan perahu 
kedua. 

“Tolong! Tolong! Saya tidak dapat berenang...” 

Hang Damar berteriak memberi perintah pada anak buahnya 
agar segera menolong si pemuda. Maka empat orang terjun ke laut 
dan menaikkan pemuda yang telah kehilangan blangkonnya itu ke atas 
perahu. Sekujur tubuh dan pakaian basah kuyup. Hanya kitab 
bertuliskan huruf Arab gundul “Kasih Allah Sepanjang Zaman, Kasih 
Ibu Sepanjang Jalan, Kasih Anak Sepanjang Penggalan.” Yang masih 
berada dalam keadaan kering. 

Hang Damar tersenyum. Dalam hati dia membatin. “Aku tadi 
menjajalnya. Dia memperlihatkan diri seperti tidak punya ilmu 
kepandaian. Atau mungkin dia cerdik bersandiwara. Aku menaruh 
curiga anak muda itu memiliki ilmu lebih tinggi dari yang aku punya. 
Mungkin dia berbahaya, mungkin juga tidak. Kalau bukan Panembahan 
Maulana Yusuf yang mengirim sudah kuremukkan tubuhnya. Sebelum 
dia menghadap pimpinan, aku harus memberi salinan pakaian 
padanya. Lalu sewaktu dia menghadap pimpinan aku harus 
mengawasinya.” 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 


KETIKA mendarat di Pulau Cingkuk pemuda yang mengaku santri dari 
Kesultanan Banten itu melihat hampir seluruh tepian pantai berada 
dalam keadaan terbuka dan gersang. Tak ada semak belukar tak ada 
deretan pohon kelapa. Di tempat-tempat tertentu dia melihat 
gundukan-gundukan batu dan di belakang setiap gundukan terdapat 
lobang setinggi bahu manusia. Di situ tempat terdapat satu bangunan 
tinggi terbuat dari bambu. Agaknya semua keadaan ini telah 
dipersiapkan jika sewaktu-waktu ada serangan. 

Sampai saat itu dua belas orang yang tadi naik. perahu masih 
terus melakukan pengawalan atas diri si pemuda. Sang “paman” Hang 
Damar Hantu Laut Selat Sunda membawanya ke sebuah goa. Di sini 
dia diberi pakaian bersih warna biru pengganti pakaian yang basah. Di 
dalam goa ini si pemuda melihat banyak sekali senjata. Mulai dari 
pisau dan golok serta pedang, sampai pada busur panah biasa dan 
panah api. Lalu ada pula senjata yang bisa meletus yang disebut bedil 
itu. Jumlahnya sekitar dua puluh pucuk. 

Setelah berganti pakaian Hang Damar minta si pemuda 
mengikuti mendaki sebuah bukit kecil. Dua belas orang anggota 
perompak tidak lagi mengawal. Mereka menyebar ke berbagai arah. 

Ketika mencapai puncak bukit matahari telah menggelincir ke 
barat pertanda siang mulai memasuki petang. Memperhatikan ke 
depan si pemuda hampir tak percaya dengan penglihatannya. Bagian 
bukit yang membentang di hadapannya merupakan satu pedataran 
rumput. Sejarak tiga puluh langkah dari tempatnya berdiri 
menghampar satu kebun bunga ditumbuhi berbagai macam bunga 
yang saat itu sedang berkembang mekar. Lalu banyak pohon buahbuahan 
yang tumbuh berselang seling dan ditata rapi. Dikelilingi oleh 
taman bunga itu terdapat sebuah mesjid kecil lengkap dengan menara 
perak yang diatasnya terpancang bulan sabit yang juga terbuat dari 
perak berkilat. 

“Kalau ini adalah sarangnya bajak laut Pulau Cingkuk maka 
sungguh diluar dugaan. Ada taman...ada pohon bebuahan, ada 
mesjid...” Si pemuda berkata dalam hati. 

Hang Damar pegang bahu anak muda yang tegak terkagumkagum. 


“Santri muda,” katanya. Saat ini sholat zuhur sudah datang. 
Pergilah sembahyang di mesjid kecil itu. Selesai sholat pergilah ke 
pohon cemara laut yang tumbuh lima berderet di sebelah timur sana. 
Jika pimpinan bersedia menemuimu dia akan mendatangimu di tempat 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

itu. Jika tidak maka kau harus segera meninggalkan pulau ini.” 

“Paman, terima kasih. Sejak kedatangan saya kau telah banyak 
menolong. Juga terima kasih saya diperkenankan boleh 
bersembahyang di mesjid yang bagus itu.” 

“Mesjid adalah rumah Tuhan. Siapa saja boleh melakukan ibadat 
di sana.” Habis berkata begitu Hang Damar yang bertelanjang dada 
segera memutar tubuh. Dua kali kakinya melangkah maka dia telah 
berada jauh di arah bukit sebelah selatan. 

Si pemuda geleng-geleng kepala. 

“Kalau semua penjahat seperti dia rasanya dunia ini akan amanaman 
saja...” Seperti yang dipesankan Hang Damar, selesai 
menunaikan sholat zuhur santri muda dari Kesultanan Banten itu 
segera menuju bukit sebelah timur dimana tumbuh berderet lima 
pohon cemara laut. Di tempat itu udara terasa sejuk karena angin 
bertiup sepoi-sepoi basah. Sementara menunggu si pemuda 
melangkah mundar mandir di samping lima pohon cemara. Setiap dia 
melangkah di samping pohon cemara sebelah tengah kakinya terasa 
menginjak tanah yang bagian bawahnya kosong. 

“Ada rongga, mungkin juga lobang besar di bawah tanah ini,” 
pikir si pemuda. Dia memperhatikan berkeliling. Di samping kanan 
deretan lima pohon cemara tumbuh subur pohon kembang berbentuk 
terompet berwarna kuning. Selain bentuknya yang indah kembang itu 
menebar bau harum semerbak. Tiba-tiba pandangan matanya melihat 
ada satu batu hitam menonjol di bagian bawah pohon bunga terompet. 
“Aneh, batu itu kelihatan bersih. Sepertinya sering disentuh...” 

Karena ingin tahu si pemuda melangkah mendekati. Saat itulah 
bahunya dipegang orang. Ketika dia tersentak kaget dan berbalik, 
yang memegang ternyata adalah sang paman, Hang Damar Hantu 
Laut Selat Sunda. 

“Ah, paman kiranya. Apakah...” 

“Kau beruntung. Pimpinan bersedia menemuimu. Sebentar lagi 
dia datang.” Kata Hang Damar. 

Baru saja ucapan dikeluarkan tiba-tiba dari balik pohon cemara 
paling ujung kiri kelihatan satu bayangan seseorang berpakaian 
merah. Sesaat kemudian di hadapan si pemuda telah berdiri sosok 
elok tinggi semampai seorang perempuan yang tubuh dan pakaiannya 
menebar bau wangi. Perempuan ini mengenakan pakaian ringkas 
warna merah. Kepala dan wajah ditutup sehelai kain merah. Yang 
kelihatan hanya sepasang mata bening tajam bercahaya. Di balik 
punggung menonjol gagang sebilah pedang berbentuk kepala binatang 
yang tak jelas apa adanya karena tertutup sejenis lapisan tebal 
bergerunjul berwarna hijau pekat. 

Setelah menatap beberapa ketika, si pemuda keluarkan ucapan. 

“Paman, apakah saya berhadapan dengan pimpinan...?” Hang 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

Damar mengangguk. 

Si pemuda cepat-cepat memutar diri menghadap lurus-lurus, 
kitab dikempit di ketiak kanan lalu rundukkan tubuh dan rapatkan dua 
tangan di depan kepala. 

“Saya sangat berterima kasih pimpinan mau menemui saya. 
Harap sudi menerima salam hormat saya.” 

Sepasang mata perempuan berpakaian dan bercadar merah 
memperhatikan si pemuda tak berkesip. Untuk beberapa lama dia 
tegak diam tertegun tak bergerak. Dada berdebar. Hati terucap. 
“Kalau saja kulitnya tidak lebih putih, tubuhnya tidak lebih langsing 
dan rambutnya tidak lebih pendek... Bagaimana mungkin wajahnya 
bisa mirip dengan...Ah! Apakah pandangan mataku yang menipu? 
Pikiranku yang berkhayal atau hatiku yang mengada-ada?” 

Si pemuda sadar kalau dirinya diperhatikan berusaha balas 
memandang. Namun dia hanya bisa melihat sepasang mata bagus 
yang bercahaya, tidak mampu menembus cadar merah untuk melihat 
wajah yang terlindung. Hatinya berkata. “Jadi inilah perempuannya 
yang menyebut diri Janda Pulau Cingkuk. Pimpinan bajak laut yang 
selama ini malang melintang di kawasan Salat Sunda. Sungguh sulit 
aku pencaya. 

“Pimpinan, inilah pamuda yang mengaku santri dari Kesultanan 
Banten. Dia datang membawa surat dari Panembahan Maulana Yusuf. 
Minta dipertemukan oangan piiiipman. 

“Jadi kau seorang santri? Betul?” 

“Betul sekail, pimpinan. Saya mohon maaf kalau...” 

“Apakah kau punya nama?” tanya perempuan bercadar merah. 

“Nama saya Aji Triyasa.” Jawab si pemuda. 

“Apa?!” Hang Damar Hantu Laut Selat Sunda keluarkan ucapan 
kaget 

“Ada apa ayahanda Hang Damar?” si cadar merah bertanya 

Kini sang santri muda yang jadi kaget. “Dia menyebut si dada 
berbulu ayahanda Jadi Hang Damar adalah ayah Janda Pulau Cingkuk? 
Turut yang aku dengar bukan begitu ceritanya. Lantas mengapa dia 
menyebut ayahanda.” 

“Aji Triyasa! Tunggu dulu!” kata Hang Damar pula. “Aji 
Triyasa...Aji Triyasa...” Lelaki bertubuh besar berusia enam puluh lima 
tahun itu mengusap wajahnya sambil menyebut nama si pemuda 
berulang kali. Otaknya berusaha mengingat-ingat. Tiba-tiba dia 
berseru.”Kau...Kau bukan seorang santri! Aku ingat sekarang! 
Wajahmu! Namamu! Kau adalah salah seorang keponakan Sultan 
Banten! Kau seorang Pangeran Kesultanan Banten!” 

Mendengar ucapan Hang Damar, sang pimpinan alias Janda 
Pulau Cingkuk secepat kilat melompat. Sekali bergerak tangan kirinya 
telah menjambak rambut panjang sekuping si pemuda yang bernama 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

Aji Triyasa. Tangan kanan yang dipentang lurus pancarkan cahaya biru 
redup, siap dihantamkan ke kening si pemuda. Tangan itu bisa 
berubah jadi palu godam, juga bisa merupakan mata pedang luar 
biasa tajam. Sekali menggeprak kepala Aji Triyasa bisa remuk atau 
terbelah! 

“Siapa kau adanya! Aku tidak peduli kau keponakan Sultan atau 
keponakan setan! Katakan apa maksud kedatangan menemui diriku!” 
Janda Pulau Cingkuk bicara dengan suara keras namun sepasang 
matanya tidak lepas dari menatap si pemuda bernama Aji Triyasa. Dan 
setiap dia memandang dadanya terasa berdebar. 

Hang Damar tidak tinggal diam. 

“Pimpinan, serahkan pemuda ini pada saya! Kemungkinan besar 
dia tengah melakukan tugas mata-mata!” Hang Damar Hantu Laut 
Selat Sunda dengan satu gerakan cepat menelikung tangan kanan Aji 
Triyasa hingga kitab yang dikempitnya terlepas jatuh ke tanah. Dalam 
keadaan tangan ditelikung ke punggung dan bisa patah malahan 
tanggal jika dia berani melawan, si pemuda hanya mampu meringis 
kesakitan. 

“Kalau saya telah melakukan kesalahan, betapa pun kecilnya 
saya ikhlas menerima hukuman. Tapi saya yakin saya tidak melakukan 
apa-apa. Jangankan melakukan, berpikir jahatpun tidak ada dalam 
benak dan hati saya. Panembahan Maulana Yusuf bukankah sudah 
menerangkan dalam suratnya maksud kedatangan saya adalah untuk 
menemui pimpinan.” 

“Aji Triyasa! Katakan apa maksudmu menemui pimpinan kami!” 
bentak Hang Damar. 

“Saya akan mengatakan. Tapi langsung pada pimpinan. Saya 
tidak ingin ada orang lain berada di tempat ini. Saya tidak ingin ada 
orang lain ikut mendengar apa yang akan saya sampaikan.” 

Mendengar ucapan si pemuda, Janda Pulau Cingkuk dengan 
cepat menggerakkan tangan. Saat itu juga sekujur tubuh, tangan 
serta kaki Aji Triyasa menjadi kaku tak bisa digerakkan. Kini dia hanya 
mampu bicara saja. 

“Ayahanda, tak usah kawatir. Silahkan meninggalkan tempat ini. 
Kalau nanti dia bicara kurang ajar akan saya robek mulutnya!” 

“Hati-hati pimpinan,” kata Hang Damar pula. Walau dirinya 
disebut ayahanda namun terhadap Janda Pulau Cingkuk dia tetap 
memanggil pimpinan. Dengan melangkah mundur dia menjauhi ke dua 
orang itu. 

Setelah Hang Damar berada sejauh hampir dua puluh tombak 
Janda Pulau Cingkuk keluarkan ucapan. 

“Sekarang hanya kita berdua di tempat ini! Katakan rahasia apa 
yang kau bawa. ke hadapanku. Awas kalau kau berani bicara kurang 
ajar!” 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

“Maafkan saya pimpinan. Pertama saya tidak tahu harus 
memanggilmu apa...” 

“Orang-orang memanggilku Janda Pulau Cingkuk. Apa sulitnya 
bagimu memanggilku dengan nama itu?” 

“Terus terang rasanya saya tidak suka menyebutmu dengan 
nama itu. Tapi jika kau yang menyuruh...Ah, bagaimana ini. Biar saya 
memanggilmu sahabat saja...” 

“Sudah, jangan banyak mulut! Jangan bicara bertele-tele! 
Katakan maksudmu menemui diriku.” Bentak Janda Pulau Cingkuk. 

“Sahabat, sebelum mengatakan saya mohon beribu maaf. Saya 
datang menemuimu untuk meminang dirimu sebagai istri...” 

“Manusia kurang ajar! Beraninya kau...!” 

Janda Pulau Cingkuk angkat tangan kanannya. 

“Plaakkk!” 

Satu tamparan keras mendarat di muka Aji Triyasa. 

Saking kerasnya tamparan tubuh Aji Triyasa yang berada dalam 
keadaan kaku akibat totokan sampai melintir. Untung tidak terbanting 
roboh. Darah meleleh dari luka di sudut kiri bibir. Melihat apa yang 
terjadi Hang Damar Hantu Laut Selat Sunda segera mendatangi. 

“Pimpinan, ada apa?!” Matanya membeliak merah menyorot. 
Sepuluh jari tangan yang berwarna hitam dipentang. 

“Ayahanda, silahkan kembali ke tempatmu. Saya belum habis 
bicara dengan orang satu ini.” 

“Kau yakin tidak akan apa-apa kutinggal sen-dirian?Mtanya 
Hang Damar. 

“Dia masih dalam keadaan tertotok. Ayahanda tidak perlu 
kawatir.” Janda Pulau Cingkuk mengangguk. 

Setelah Hang Damar kembali ke tempatnya semula Janda Pulau 
Cingkuk cabut pedang yang tersembul di balik punggung. Senjata ini 
bentuknya aneh. Penuh dengan gerunjulan tebal berwarna hijau mulai 
dari ujung lancip sampai ke gagang. Pedang yang memancarkan 
cahaya hijau redup ini diletakkan di atas bahu kiri Aji Triyasa. Setiap 
kejap mata pedang menempel di leher siap menggorok jebol leher 
pemuda dari Banten itu! 

Si pemuda tersenyum. Membuat Janda Pulau Cingkuk jadi geram 
dan membentak. 

“Manusia konyol! Mengapa kau tersenyum?!” 

“Saya sudah dalam keadaan tertotok. Sahabat masih mau 
mengancam dengan golok terhunus. Apa perlunya? Apalagi saya 
datang membawa maksud baik, tidak ada kejahatan yang saya 
sembunyikan.” 

Dibalik cadar merah wajah Janda Pulau Cingkuk berubah merah. 

“Aji Triyasa, sekalipun kau keponakan Sultan Banten, apa kau 
kira aku tidak berani menghabisimu?!” 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

“Sahabat, saya tahu kau seorang berhati mulia. Tidak mungkin 
akan menggorok batang leher saya.” 

“Siapa bilang?” Jawab Janda Pulau Cingkuk sambil menekan 
mata pedang ke leher si pemuda. 

“Saya yang bilang. Karena ada banyak hal yang sahabat ingin 
tahu dari saya!” Jawab Aji Triyasa pula. 

“Nyawa ikan di sekitar pulau ini lebih berharga dari nyawamu!” 

“Begitu? Ya sudah, silahkan sahabat membunuh saya sekarang 
juga! Kalau saya sudah mati silahkan dipanggang, diberi bumbu. Pasti 
tubuh saya lebih sedap rasanya dari ikan sekitar pulau ini.” 

“Kurang ajar!” 

Rahang Janda Pulau Cingkuk menggembung. Matanya 
membeliak namun tangan kanannya yang memegang gagang pedang 
hijau tidak bergerak. 

“Berpenampilan halus, bicara halus dan sikap sopan! Tapi 
mengapa sikapnya hampir sama konyol dengan manusia satu itu!” 
Janda Pulau Cingkuk menggeram dalam hati. 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 


SAHABAT, mengapa kau ragu mem bunuhku? Aji Triyasa bertanya. 
“Diam! Jangan banyak mulut!” bentak Janda Pulau Cingkuk. 

“Kalau begitu perintahmu mulai saat ini saya tidak akan bicara. 
Saya akan diam seribu bahasa. Anggap saja kau bicara dengan 
patung!” 

“Benar-benar kurang ajar! Katakan apa maksudmu mau 
meminang diriku jadi istrimu? Kau sengaja hendak menghinaku?!” Aji 
Triyasa diam saja. “Hai! Ayo bicara! Mengapa bungkam?!” Si pemuda 
tetap membisu. Janda Pulau Cingkuk ketukkan gagang pedang hijau 
ke kening si pemuda hingga benjut dan kucurkan darah. Aji Triyasa 
mengerenyit kesakitan tapi tetap tidak keluarkan suara. Diam-diam 
perempuan di hadapannya jadi merasa kasihan. 

“Aku bertanya mengapa kau tidak menjawab?!” 

“Tadi kau memerintahkan agar saya tutup mulut. Apa sekarang 
sudah boleh bicara?” Aji Triyasa akhirnya bicara juga. 

“Manusia konyol! Kau mau bicara apa?!” 

“Sahabat, jika kau mau menerima pinanganku maka kau telah 
berbuat satu kebajikan besar.” 

“Enak saja kau bicara! Siapa yang menyuruhmu datang ke sini?” 

“Saya mau sendiri. Selain itu memang ada dorongan dari 
Kesultanan Banten dalam rangka mencari jalan yang terbaik untuk 
menghentikan perompakan di Selat Sunda.” 

“Aku tidak mengerti maksudmu!” kata Janda Pulau Cingkuk pula. 

“Kalau begitu saya akan menjelaskan. Sahabat, sebelum kau 
menjadi pimpinan para bajak Selat Sunda, banyak kerugian baik harta 
maupun nyawa manusia yang telah jadi korban. Setelah kau jadi 
pimpinan memang korban nyawa tidak ada lagi, tapi penjarahan tetap 
meraja lela di perairan Selat Sunda. Semua ini mendatangkan 
kerugian sangat besar bagi Kesultanan Banten serta penderitaan bagi 
rakyat. Hubungan dagang dengan beberapa negeri asing menjadi, 
terhenti, dan rusak. Kami memang mendengar kabar ada sebagian 
barang jarahan dijadikan uang dan dibagi-bagi untuk membantu 
rakyat miskin? Tapi apakah itu ada manfaat dan pahalanya? Menolong 
orang dengan barang haram? Sultan ingin semua kejahatan itu 
dihentikan. Saya sendiri melihat tempatmu bukan di sini atau di 
tengah lautan. Kami semua yakin kau berasal dari orang baik-baik. 
Karena itu kami bersepakat meminangmu, menjadikan kau sebagai 
istri saya. Jangan lihat kedudukan saya sebagai Pangeran keponakan 
Sultan, itu tidak ada arti apa-apa. Saya sama dengan manusia lainnya, 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

sama dengan dirimu. Yang penting kau bisa merubah jalan hidup, 
menjadi seorang perempuan dan istri baik-baik. Sultan akan memberi 
pengampunan pada seluruh anak buahmu. Mereka dipersilahkan 
datang ke Banten dan tinggal di sana Mereka juga boleh memilih 
tempat kediaman baru yang mereka inginkan. Semua barang jarahan 
yang ada di tangan mereka silahkan dibagi-bagi sebagai modal hidup 
baru. Yang penting Selat Sunda menjadi aman, tidak ada lagi 
pembajakan, tidak ada lagi perompakan. Jika kau mau melakukan itu, 
bukankah itu satu kebajikan yang sangat besar?” 

“Aku seperti bermimpi!” kata Janda Pulau Cingkuk lalu tertawa 
panjang. 

“Sahabat, kau tidak bermimpi. Yang kau hadapi adalah 
kenyataan!” Kata Aji Triyasa pula. 

Janda Pulau Cingkuk geleng-gelengkan kepala. 

“Luar biasa! Mula-mula kau muncul mengaku sebagai seorang 
santri. Lalu kenyataannya kau adalah keponakan Sultan Banten. 
Sekarang kau memperlihatkan dirimu seolah-olah seorang sunan yang 
tengah menebar ajaran agama.” 

“Sahabat, jangan kau salah mengira. Untuk menebar kebaikan 
seseorang tidak perlu menjadi Sunan lebih dahulu.” 

“Kau pandai bicara! Aku tidak suka pada manusia yang pandai 
bicara!” 

“Sahabat, kau boleh saja tidak suka pada saya. Tapi saya akan 
tetap ingin meminangmu untuk dijadikan istri.” 

“Orang tololpun bisa tahu kalau kau hanya menjalankan siasat 
busuk!” 

“Tidak sahabat, aku tidak berdusta. Kau akan tetap menjadi 
penguasa kawasan Laut Selatan bersama sekian ratus anak buahmu 
bagiku tak jadi apa. Tapi apakah itu ada artinya bagimu? Apakah itu 
tujuan hidupmu? Sementara jalan baik penuh kebajikan dan 
ketentraman terbentang luas di hadapanmu. Dengar, siapapun kau 
adanya, aku benar-benar menginginkan kau menjadi istriku.” 

“Seorang pemuda yang masih jaka mau kawin dengan seorang 
janda? Hik...hik!” 

“Apa salahnya?” jawab Aji Triyasa. 

“Kita tidak pernah berkenalan sebelumnya. Kau tidak pernah 
melihat wajahku!” 

“Itu betul.Tapi aku yakin, bahkan hakkulyakin kau sahabat 
adalah seorang yang cantik jelita dan berhati mulia.” 

“Bagaimana kalau nanti kau lihat wajahku yang buruk?” 

“Saya tetap akan meminangmu.” 

“Konyol sekali” Ucap janda Pulau Cingkuk. 

Aji Triyasa tertawa. 

“Apakah kau akan memperlihatkan wajahmu pada saya?” 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

Pemuda itu bertanya. 

“Kau akan menyesal!” kata Janda Pulau Cingkuk pula. 

“Insya Allah tidak,” jawab si pemuda. 

“Kalau begitu buka matamu lebar-lebar!” Janda Pulau Cingkuk 
berucap lalu dia singkapkan kain merah yang menutupi seluruh 
wajahnya. Maka kelihatanlah satu wajah yang dipenuhi koreng 
bernanah, luar biasa mengerikan dan menjijikan. 

“Tukak nanah!” kata Aji Triyasa menyebut penyakit di wajah 
Janda Pulau Cingkuk dengan wajah mengerenyit terkesima. 

Janda Pulau Cingkuk tutup kembali wajahnya dengan cadar 
merah. 

“Kau sudah lihat wajahku! Apakah kau masih tetap hendak 
meminangku?” 

Lama Aji Triyasa terdiam dan masih memandangi wajah yang 
sudah tertutup kain merah itu. Perlahan-lahan si pemuda anggukkan 
kepala dan keluarkan ucapan. 

“Saya tetap ingin sahabat menjadi istri saya.” 

Janda Pulau Cingkuk terperangah dan tersurut satu langkah! 

“Kau seorang pangeran, seorang keponakan Raja. Tapi otakmu 
agaknya tidak waras. Kasihan sekali...” 

“Terimakasih sahabat berkata begitu. Saya ingin mendengar 
jawaban dari sahabat atas pinangan saya. Jika sahabat...” 

“Pemuda sinting! Dengar dulu ucapanku!” hardik Janda Pulau 
Cingkuk. “Aku telah membuat aturan. Siapa saja yang melihat 
wajahku maka dia tidak akan pernah meninggalkan pulau ini untuk 
selama-lamanya.” 

“Tadi saya telah minta di bunuh. Saya ikhlas menemui kematian 
di tangan sahabat...” 

Janda Pulau Cingkuk sarungkan pedang hijau lalu angkat tangan 
kiri memberi tanda pada Hang Damar Hantu Laut Selat Sunda. 

“Ada apa pimpinan?” tanya Hang Damar begitu sampai di 
hadapan Janda Pulau Cingkuk. 

“Ayahanda, lemparkan manusia satu ini ke Pulau Kerikil. Jangan 
diberi minum, jangan diberi makan! Jangan dilepas totokannya! Kita 
tunggu sampai dia berteriak minta ampun atas kekurang ajarannya!” 

Hang Damar membungkuk tanda siap menjalankan perintah. Dia 
lalu bersuit tiga kali. Enam orang anggota bajak segera berdatangan 
ke tempat itu. Hang Damar lantas berikan perintah yang sama seperti 
diucapkan Janda Pulau Cingkuk. Aji Triyasa digotong beramai-ramai ke 
arah pantai tanpa pemuda itu keluarkan sepotong ucapanpun. Dia 
hanya sempat menatap dengan pandangan mata sayu ke arah Janda 
Pulau Cingkuk. Perempuan itu tidak berani balas menatap melainkan 
memandang berkeliling. Pandangan kemudian membentur kitab milik 
Aji Triyasa yang jatuh dan tergeletak di tanah. 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

Janda Pulau Cingkuk lalu membungkuk mengambil kitab itu, 
memperhatikan sebentar. Dia sangat tertarik namun tidak mampu 
membaca kitab yang bertuliskan huruf Arab gundul itu. 

“Ayahanda, saya tahu ayahanda mengerti bahasa dan tulisan 
Arab. Apakah ayahanda bisa membaca kitab ini? 

Hang Damar Hantu Laut Selat Sunda segera mengambil kitab 
yang diberikan Janda Pulau Cingkuk. Setelah dia membalik-balik dia 
mengangguk. 

“Saya bisa membacanya pimpinan.” “Kitab apa itu?” 

“Pimpinan, saya tidak tahu apa isi kitab ini. Namun di bagian 
depan tertulis Kasih Allah Sepanjang Zaman, Kasih Ibu Sepanjang 
Jalan, Kasih Anak Sepanjang Penggalan.” 

Setelah mendengar nama kitab itu, Janda Pulau Cingkuk terdiam 
beberapa lama. Lubuk hatinya bersuara pilu. Apakah selama ini aku 
mengingat dan dekat kepada Allah. Aku tidak tahu siapa ibuku bahkan 
kedua orang tuaku. Kemudian perempuan itu berkata. 

“Ayahanda, maukah ayahanda tolong menyalinkan isi kitab ini ke 
daiam bahasa Jawa Kuno?” 

“Untuk pimpinan saya akan melakukan apa saja,” jawab bekas 
penguasa kawasan laut Selat Sunda. 

MALAM hari di atas pembaringan. Janda Pulau Cingkuk dapatkan 
dirinya sulit memincingkan mata. Dia selalu teringat kejadian siang 
tadi. Masih terbayang olehnya bagaimana tatapan sepasang mata 
pemuda bernama Aji Triyasa itu ke arahnya ketika dia digotong untuk 
di bawa ke Pulau Kerikil. 

“Aku tahu semua yang dikatakan pemuda itu adalah benar.Tapi 
niatnya untuk menjadikan diriku sebagai istri... Dia sebenarnya 
menginginkan diriku atau menginginkan lenyapnya perompakan di 
Selat Sunda? Mungkin kedua-duanya. Dia... apakah dia mencintai 
diriku? Mustahil. Aku belum pernah bertemu sebelumnya. Tadi siang 
dia telah melihat wajahku. Dan dia masih saja menginginkan diriku 
jadi istrinya. Apakah dia... Apakah dibalik ini semua ada satu tipu 
daya? Aku mengetuk keningnya dengan gagang pedang hingga 
benjutdan berdarah! Ah... Dan kini dia berada di Pulau Kerikil. Seorang 
diri dalam keadaan tertotok tak berdaya. Dia seorang Pangeran. Dia 
pasti kedinginan, haus dan juga lapar. Apakah aku telah berlaku 
kejam?” 

Djbuncah oleh berbagai macam pikiran dan duga-duga dalam 
hati menjelang pagi baru Janda Pulau Cingkukdapat memejamkan 
mata dan tertidur. Itupun dia tidak bisa pulas lama karena sebelum 
fajar menyingsing dia sudah terbangun. Begitu bangun ingatannya 
kembali pada pemuda bernama Aji Triyasa. 

Akhirnya dengan diam-diam tanpa diketahui seorangpun 
termasuk Hang Damar Hantu Laut Selat Sunda melalui jalan rahasia 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

Janda Pulau Cingkuk menyeberang ke Pulau Kerikil yang terletak tak 
seberapa jauh dari Pulau Cingkuk. 

Pulau Kerikil merupakan pulau paling kecil di kawasan kepulauan 
Rakata. Disebut Pulau Kerikil karena di pulau itu hanya ada timbunan 
batu kerikil setebal lutut.Tak ada tetumbuhan, tak ada air bahkan 
binatangpun tak ada yang hidup di situ. Konon 

timbunan batu kerikil itu terjadi dan berasal dari Pulau Rakata 
besar yang meletus dan memuntahkan bebatuan termasuk batu kerikil 
ke kawasan sekitar. 

Ketika Janda Pulau Cingkuk sampai di pulau itu dan berkeliling 
sampai tiga kali namun dia tidak menemukan orang yang dicari. 

“Aneh, apakah dia tidak sampai ke sini. Atau berhasil melarikan 
diri?” Perempuan itu dudukkan diri di atas tumpukan batu kerikil. 

Janda Pulau Cingkuk sengaja menunggu sampai sang surya 
terbit. Begitu matahari menyembul dan keadaan di pulau menjadi 
terang, sekali lagi dia mengelilingi pulau itu namun tetap saja dia tidak 
menemukan Aji Triyasa. 

“Kalau dia ternyata seorang mata-mata, aku harus bersiap-siap. 
Pasukan Kesultanan Banten bisa saja menyerbu secara tidak 
terduga...” 

Ketika perahu Janda Pulau Cingkuk perlahan-lahan 
meninggalkan Pulau Kerikil, salah satu lapisan tebal tumpukan kerikil 
tampak bergerak-gerak. Sesaat kemudian menyeruak muncul satu 
kepala, memandang tersenyum ke arah perahu yang makin menjauh. 

“Janda Pulau Cingkuk, ternyata kau tidak bisa melupakan diriku. 
Aku tidak tahu siapa kau sebenarnya. Aku hanya menuruti petunjuk 
Panembahan Maulana Yusuf yang mendapat penjelasan dari Sultan 
Banten bahwa kau adalah seorang perempuan muda cantik jelita. 
Masih muda dan cantik. Bagaimana jalan ceritanya kau menyebut diri 
sebagai seorang janda?” 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 


KITA kembali ke pulau Menjangan Kecil. Setelah dengan terpaksa 
menolong menyembuhkan ”barang antik” Bujang Gila Tapak Sakti 
untuk beberapa lama Nenek Cempaka terduduk ditanah, mata 
terpejam, wajah pucat dan dada berdebar. Seumur hidup nenek tidak 
pernah menyangkali akan mendapat pengalaman luar biasa seperti ini. 
Bujang Gila Tapak Sakti rapikan celana gombrangnya. Usap-usap 
bagian bawah perut. Untuk beberapa lama dia pandangi si nenek 
dengan perasaan iba. Dia tahu tadi waktu mengusap dan meniup 
'barang antiknya!' si nenek kelihatan biasa-biasa saja, tetapi 
sesungguhnya dia telah menguras tenaga dalam dan hawa sakti. Itu 
sebabnya si nenek tampak kuyu lunglai seperti tubuh yang tidak 
bertulang. 

Sambil mesem-mesem murid Sinto Gendeng dekati Bujang Gila 
Tapak Sakti lalu berbisik. 

“Dut, kau harus berterima kasih pada nenek itu. Kalau dia tidak 
menolong seumur-umur barangmu akan melendung bengkak dan 
berwarna biru. Sakit dari pagi sampai malam, dari malam sampai 
pagi!” Si gendut mengangguk. 

“Aku akan melakukan sesuatu. Mudah-mudahan cukup imbal 
sebagai pembatas budi baiknya.” Bujang Gila Tapak Sakti lalu dekati si 
nenek yang masih duduk tak bergerak dan pejamkan mata. Dua 
telapak tangan digosokan satu sama lain. Dari sela-sela telapak 
tangan mengepul asap kelabu disusul menebarnya hawa dingin. 

Perlahan-lahan Bujang Gila Tapak Sakti berlutut dihadapan 
Nenek Cempaka. Beberapa lama mulutnya komat kamit merapal satu 
aji kesaktian. Kemudian dua telapak tangan diusapkan ke wajah si 
nenek, terus ke kepala dan rambut sambil mulut berucap. 

“Nek, aku Bujang Gila Tapak Sakti berterima kasih padamu 
karena kau telah menyembuhkan anuku yang bengkak dan biru. 
Semoga Tuhan selalu memberkahimu...” 

Dua tangan Bujang Gila Tapak Sakti memang memiliki kesaktian 
luar biasa. Bukan saja mampu menyembuhkan cacat bekas luka, atau 
membentuk dan membuat sesuatu dari batu dan kayu, tapi juga 
seperti apa yang dilakukannya terhadap nenek Cempaka, orang 
kepercayaan Ratu Sepuh Penguasa Laut Utara. Hanya saja ilmu yang 
satu ini sangat jarang dikeluarkannya. 

Begitu diusap mukanya maka wajah si nenek yang tadinya loyo 
dan keriput kini menjadi kencang bagus tidak beda seperti perempuan 
yang masih berumur tiga puluh tahun. Selesai kepala dan rambut 
diusap maka rambut yang tadinya putih tergulung kini menjadi hitam 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

tergerai. Nenek Cempaka telah berubah menjadi seorang perempuan 
muda yang cantik jelita! 

Murid Sinto Gendeng terperangah dan geleng-geleng kepala dan 
melihat apa yang terjadi sementara Nenek Cempaka masih terduduk 
picingkan mata. 

“Ayo kita cepat pergi,” bisik Bujang Gila pada Wiro. “Kalau dia 
keburu sadar siapa dirinya sekarang habis kau digusalnya. Sewaktu 
masih nenek saja hebat bukan main. Apa lagi sudah muda seperti ini. 
Hik...hik!” 

Sambil menahan tawa kedua orang itu segera tinggalkan 
perempuan tua yang kini berubah muda itu. Di tengah jalan 
sementara berlari Wiro ingat sesuatu. Dia pegang lengan Bujang Gila 
Tapak Sakti dan bertanya. 

“Sobatku gendut, apakah kau tidak kelupaan sesuatu?” 

“Kelupaan apa?” tanya Bujang Gila Tapak Sakti. 

“Kau mengusap wajah dan rambut hingga nenek itu kini jadi 
perempuan muda cantik jelita. Tapi kau tidak mengusap dadanya.” 

“Maksudmu?” 

Tanya Bujang Gila kurang tanggap. “Maksudku wajahnya wajah 
perempuan muda tapi dadanya masih peot rata...” 

Bujang Gila Tapak Sakti hentikan lari. Berpikir-pikir lalu tertawa 
lebar. 

“Kau betul Wiro. Ah, kasihan nenek itu. Aku harus kembali...” 

“Kurasa tidak perlu. Kapan-kapan kalau kau ketemu dia lagi kau 
bisa melakukan hal itu. Merubah dadanya yang rata peot menjadi 
padat menonjol...” 

“Tapi aku bisa melakukan dari sini,” kata Bujang Gila Tapak 
Sakti pula. “Cuma harus memakai perantara. Yaitu dengan cara 
mengusap dadamu tapi membayangkan si nenek. Mari, aku pinjam 
dadamu sebentar...” 

Lalu Bujang Gila Tapak Sakti gosokkan dua telapak tangan satu 
sama lain. Seperti tadi asap putih mengepul dan udara terasa dingin. 
Dua telapak tangan ditempelkan ke dada Wiro, diusap-usap sambil 
mulut merapal berkomat-kamit. Pikiran membayangkan dada dan 
wajah si nenek.Tapi celakanya si gendut melakukan hal yang keliru. 
Dia membayangkan dada dan wajah Wiro. 

“Wuttt!” 

“Breett!” 

Dada baju hitam Pendekar 212 robek kiri kanan. 

Dua buah benda putih mencuat dari balik robekan. Murid Sinto 
Gendeng berseru kaget, mulutnya menganga mata membeliak. 

“Gendut! Kau melakukan apa? Mengapa dadaku jadi begini?!” 

Bujang GilaTapak sakti tak kalah kejutnya. Matanya yang belok 
membeliak. 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

“Astaga! Aku melakukan kesalahan!” Ucap Bujang Gila Tapak 
Sakti lalu tertawa gelak-gelak. 

“Jangan tertawa! kembalikan dadaku ke asalnya!” Teriak Wiro 
yang saat itu dadanya telah berubah menjadi seperti dada perempuan, 
besar dan kencang! 

“Tunggu...sabar! Akan aku perbaiki. Akan aku betulkan!” 

Bujang Gila Tapak Sakti kembali gosok-gosok dua telapak 
tangan. Begitu asap mengepul dua tangan diletakkan di atas dada 
Wiro dan diusap-usap. Kali ini karena dadanya berbentuk dada 
perempuan Wiro jadi kegelian dan mengeliat-geliat. 

“Kalau kau tidak bisa diam nanti keliru lagi!” Kata Bujang 
GilaTapak Sakti pula. 

Wiro terpaksa berusaha diam menahan geli. 

“Nah sudah! Beres! Dadamu sudah kembali ke bentuk asal. 
Begitu saja repot!” Wiro menunduk sambil pegang dadanya. Dia 
merasa keanehan lain kini. Cepat-cepat baju hitam dibuka lalu 
berteriak keras. 

“Bujang Gila sialan! Jangan membuat aku marah! Lihat!” 

Si gendut terperangah, sampai tersurut mundur satu langkah. 
Dada sang pendekar dilihatnya telah berubah menjadi dada seorang 
nenek-nenek, peot rata dengan dua puting hitam besar ayun-ayunan! 

Bujang Gila tak dapat menahan tawa bergelaknya. Dia akan 
terus tertawa kalau tidak dijambak dan dkepalkan tinju oleh Wiro. 

“Guraumu sudah keterlaluan!” kata Wiro yang ketakutan kalau 
bentuk dadanya tidak bisa kembali seperti semula. “Kau tahu, aku 
punya ilmu yang disebut Menahan Darah Memindah jazad. Kau mau 
kantong menyan dan burung hantumu aku pindahkan ke jidat?!” 

“Sobatku gondrong! Jangan segila itu! Semua ini terjadi secara 
tidak sengaja Tenang, tenang. Akan aku kembalikan. Pasti...Lihat 
saja.” 

Lalu untuk ke tiga kalinya Bujang Gila Tapak Sakti gosokkan dua 
telapak tangan. Asap putih mengepul lagi. Hawa dingin kembali 
menebar. Sedikit agak tegang si gendut usapkan dua tangannya ke 
dada sang pendekar. Sesaat kemudian dua payudara peot datar 
lenyap. Keadaan dada Wiro kembali ke bentuk semula. 

SEBELUM Wiro dan Bujang Gila Tapak Sakti mencapai pantai 
tiba-tiba turun badai. Dalam cuaca buruk dan gelap kedua orang itu 
memaksa jalan terus. Akibatnya arah yang mereka tuju yakni bagian 
selatan pulau jadi bergeser mendekati bagian timur. Ketika akhirnya 
mereka sampai di pantai yang salah badai baru berhenti. 

“Tidak ada perahu, tidak ada nelayan. Sebentar lagi malam 
datang. Kita terpaksa menunggu sampai pagi. Tidak ada gubuk, 
berarti kita akan tidur di pantai ini dalam udara dingin ditambah 
guyuran embun.” 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

Berkata Pendekar 212 Wiro Sableng sambil menggaruk kepala. 

“Soal udara buruk perlu apa ditakutkan. Kau merasa dingin, aku 
malah mulai merasa kepanasan. Kipas kertasku hilang entah kemana.” 

Bujang Gila Tapak Sakti yang memang lekas merasa kepanasan 
dan keringatan sementara orang lain kedinginan, buka kopiah 
hitamnya lalu dikipas-kipas ke wajahnya yang keringatan. 

“Sobatku gondrong, perihal perahu tidak usah dikawatirkan. Kau 
boleh ngorok dimana kau suka. Kalau kau bangun aku sudah membuat 
dua perahu untuk kita layari malam ini juga. Cuma kita mau menuju 
kemana?” 

“Aku masih ada satu urusan besar yang belum rampung,” jawab 
Wiro. 

“Soal perkawinanmu dengan Ratu Duyung yang aku dengar kini 
bernama Intan itu?” 

Wiro tertawa lalu gelengkan kepala. 

“Aku harus mencari Nyi Retno Mantili dan mempertemukan 
perempuan itu dengan anaknya yang bernama Ken Permata. Menurut 
ceritamu kau pernah bertemu Nyi Retno. Lalu diserang oleh seorang 
kakek bernama Demang Cambuk Item yang ternyata datang bersama 
Serikat Tiga Momok yang mau memakan hati, jantung serta ginjal Nyi 
Retno Mantili...” 

“Aku sial sekali waktu itu,” menyahuti Bujang Gila Tapak Sakti 
sambil usap mukanya yang keringatan. “tereka berhasil membawa lari 
Nyi Retno. Ketika aku 

bertemu Purnama, gadis dari negeri seribu dua ratus tahun silam 
itu memberi tahu kalau Nyi Retno ditolong oleh Manusia Paku 
Sandaka. Katanya perempuan itu dibawa ke tempat kediaman gurunya 
untuk dinikahi.” 

“Hah! Apa? Manusia Paku Sandaka Arto Gampito hendak 
menikahi Nyi Retno?!” 

“Itu yang diceritakan Purnama. Purnama mendapat tahu hal itu 
dari puteranya bernama Jatilandak. Kabarnya Jatilandak telah menjadi 
Kepala Pasukan di Kesultanan Cirebon. Kau cemburu atau patah hati 
kalau Nyi Retno Mantili kawin dengan Manusia Paku?” tanya Bujang 
Gila Tapak Sakti sambil senyum-senyum. “Ini adalah aneh!” 

“Aneh bagaimana?” tanya Wiro. 

“Nyi Retno pernah bilang padaku kalau ayah Kemuning, boneka 
kayu itu adalah dirimu! Apa tidak aneh kalau manusia punya anak 
boneka kayu? Memangnya kau apakan perempuan itu?” 

Wiro tertawa gelak-gelak lalu menggaruk kepala. 

“Sebetulnya,” kata Bujang Gila tapak Sakti pula. “Kalau Kakek 
Segala Tahu tidak menyuruh aku ke laut utara bergabung denganmu, 
mungkin aku sudah pergi menyelidik dan mencari Nyi Retno Mantili.” 

“Kita sudah tahu siapa yang membawa Nyi Retno dan kemana 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

dibawanya. Yang aku tidak mengerti apakah Manusia Paku sengaja 
menculik dan memaksa Nyi Retno kawin dengannya? Kalau mereka 
suka sama suka perduli amat.Tapi bukankah lebih baik kalau Nyi 
Retno lebih dulu bertemu dengan anaknya agar sakit ingatannya bisa 
disembuhkan?” 

Aku juga kasihan sama Nyi Retno. Kalau sampai dinikahi oleh 
manusia yang sekujurtubuhnya itu penuh paku. Ihhh! Apa perempuan 
bertubuh kecil itu tidak akan jebol atas bawah?!” kata Bujang 
GilaTapak Sakti pula. (Kisah diculiknya Nyi Retno Mantili dari tangan 
Bujang Gila Tapak Sakti oleh komplotan yang menamakan diri Serikat 
Momok Tiga Racun dapat dibaca dalam serial Wiro Sableng berjudul 
“Perjodohan Berdarah”. Baca juga episode berjudul “Badai Laut 
Utara”) 

“Sobatku gendut, sebelum ditolong oleh Ratu Sepuh, kau 
sempat bersama-sama Bidadari Angin Timur. Selama perjalanan dia 
bicara apa saja?” 

“Buuaaannnyyaaaakk!” jawab Bujang Gila Tapak sakti dengan 
mulut dimonyongkan lalu tertawa cengengesan. 

“Tentang diriku?” 

Si gendut menggeleng. “Setiap aku bicara mengenai dirimu, 
gadis itu kelihatannya tidak mau mendengar. Aku menduga agaknya 
dia sangat marah atau benci padamu. Mungkin karena tahu kau sudah 
dijodohkan dengan Ratu Duyung?” 

“Perjodohan itu belum terlaksana,” jawab Wiro. “Aku tahu 
mengapa dia marah dan benci padaku. Ada penyebab lain.” 

“Aku tidak tahu urusan orang lain.Tapi kalau kau mau 
menceritakan, aku juga mau mendengarkan.” 

“Asal kau berjanji tidak bermulut ember, menceritakan pada 
orang lain.” Kata Wiro pula. 

“Aku berjanji!” jawab Bujang Gila Tapak Sakti 

sambil mengangkat tangan kanan ke atas lalu tangan itu 
ditepukkan ke pantatnya yang gembrot besar hingga mengeluarkan 
suara keras! 

“Waktu itu aku dan Ratu Duyung tengah mengejar Nyi Wulas 
Pikan yang menyaru menjadi Ratu Duyung. Dia telah memperdayai 
diriku hingga aku menyerahkan Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru 
padanya karena mengira dia Ratu Duyung benaran. Di satu tempat 
Ratu Duyung memberi tahu ada seseorang yang mengikuti. Orang itu 
menebar bau tubuh dan pakaian yang wangi. Aku yakin dia adalah 
Bidadari Angin Timur. Lantas saja muncul hasratku hendak 
menggodanya. Ratu Duyung aku ciumi habis-habisan...” 

“Ah, hal itu pasti menyakiti hati Bidadari Angin Timur. 
Perbuatanmu konyol sekali!” 

Wiro menggaruk kepala. 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

“Hal itu sudah terjadi. Tidak ada gunanya disesalkan. Yang jelas 
setelah kejadian itu Bidadari AnginTimur menghilang. Aku dan Ratu 
Duyung bisa lebih memusatkan perhatian pada pengejaran atas diri 
Nyi Wulan Pikan. Sekarang dimana beradanya gadis itu. Dia kabur 
setelah menendang hancur muka Nyi Harum Sarti. Gara-gara dirinya 
dikatakan janda Tubagus Kesumaputera alias Jatilandak.” 

“Aku rasa kini dia akan membuat perhitungan dengan Purnama. 
Bidadari Angin Timur telah ditelanjangi di hadapan banyak orang. Dari 
mana Ratu Laut Utara palsu itu tahu soal diri Bidadari Angin Timur 
kalau bukan dari Purnama?” 

“Berarti apakah dia sudah dinikahi Tubagus Kesumaputera? 
Kalau memang benar lalu kenapa sesingkat itu menjadi janda? Apa 
yang terjadi? Mereka cerai hidup atau sang suami menemui 
kematian?” 

“Aku tidak bisa menduga. Aku tidak tahu ceritanya kalau 
memang sudah kawin atau nikah kapan kawin atau nikahnya. 
Sayangnya Purnama juga pergi begitu saja. Kau harus menyelidiki hal 
itu. Karena kalau kau tidak suka dinikahi dengan Ratu Duyung dan 
lebih suka dengan Bidadari Angin Timur, berarti kau kawin dengan 
janda kembang bukan dengan anak perawan! Berarti kau dapat bekas 
orang!” 

Wajah Pendekar 212 jadi mengelam merah mendengar katakata 
terakhir Bujang Gila itu. 

“Maafkan kalau aku menyinggung perasaanmu. Tapi urusan 
kawin bukan urusan main-main. Rumah tangga bisa jadi sorga tapi 
bisa juga jadi neraka...” 

“Aku tahu, itu sebabnya kau yang mengaku sudah berusia 
delapan puluh tahun belum kawin-kawin sampai sekarang.” 

Bujang Gila Tapak Sakti tertawa gelak-gelak hingga sekujur 
tubuhnya yang gemuk gembrot bergoyang-goyang. 

Wiro kembali menggaruk kepala. Lalu berkata. 

“Aku tahu tempat kediaman guru Manusia Paku. Kita harus 
segera kesana. Mudah-mudahan tidak terlambat. Katamu kau akan 
membuat dua perahu. Makin cepat kau lakukan makin baik.” 

Bujang GilaTapak sakti memandang berkeliling. Dia menunjuk ke 
arah sebatang pohon kelapa paling tinggi dan paling besar sejarak tiga 
tombak dari tempat mereka berdiri. 

“Aku minta bantuanmu. Toiong kau tumbangkan pohon kelapa 
itu.” 

Wiro tidak menunggu lebih lama. Tanpa beranjak dari tempatnya 
berdiri dia menghantam bagian bawah pohon kelapa besar dengan 
pukulan Segulung Ombak Menerpa karang. Jangankan pohon kelapa, 
batu karang saja bisa dihantam hancur oleh pukulan sakti warisan 
Sinto Gnedeng itu. 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

“Braakk!” 

Bagian paling bawah pohon kelapa besar hancur berkepingkeping. 
Bagian atas pohon tumbang bergemuruh. 

Bujang GilaTapak Sakti menyeringai. Dua telapak tangan 
digosok-gosok. Dengan ilmu kesaktiannya dia memang bisa merubah 
dan membuat batang kelapa besar itu menjadi dua perahu. Ketika si 
gendut ini mulai hendak bekerja tiba-tiba ada suara perempuan 
berseru. Datangnya dari arah laut. 

“Kalau hanya memerlukan perahu mengapa harus merusak 
alam? Dua sahabat muda. Aku bisa memberikan perahu ini pada 
kalian!” 

Bujang GilaTapak Sakti dan Pendekar 212 Wiro Sableng serentak 
berpaling ke arah kiri. Kedua orang ini sama-sama kaget. 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 


ASTAGA! Dia! ucap Bujang Gila Tapak Sakti. Wajah si gendut ini 
berubah. “Sobatku gendut. Dia pura-pura menawarkan perahu. 
Sebenarnya dia mencarimu. Pasti dia tidak melupakan apa yang tadi 
siang dilakukannya. Belum satu hari sudah kangen mau mengusap 
dan meniup perabotanmu lagi! Ha... ha...!” 

“Eh, apa dia sudah tahu kalau wajahnya sekarang sudah 
berubah jadi muda?” ucap Bujang GilaTapak Sakti. “Bagaimana ini, 
kita mau bilang apa? Menolak saja tawarannya?” Si gendut tampak 
bingung juga ada rasa takut gara-gara ucapan Wiro tadi. Tapi Wiro 
malah membalikkan ucapan. 

“Tolol kalau kau menolak. Pertama kau tidak perlu susah payah 
membuat dua perahu. Kedua... Ehem... ini yang penting. Kau bakalan 
dapat kesenangan. Bukankah kau sendiri yang bilang usapannya lebih 
hebat dari usapan anak gadis? Ha...ha...ha!” Wiro tertawa gelak-gelak. 

Di tepi pantai, di bagian laut yang dangkal sepinggang tampak 
sebuah jukung besar. Di atasnya duduk senyum-senyum perempuan 
muda berwajah cantik yang bukan lain adalah nenek Cempaka yang 
wajahnya telah dirubah oleh Bujang GilaTapak Sakti sehingga kini 
menjadi muda jelita. 

Perempuan di atas perahu lambaikan tangan. 

“Hai! Kenapa kalian kelihatan seperti bingung? Apa mengira aku 
mau berbuat jahat? Salah seorang dari kalian telah berbuat kebajikan 
besar padaku walau kini aku jadi rikuh berkeadaan seperti ini.” 

“Nenek Cempaka!” Wiro menyahuti. Lalu menggaruk kepala.”Ah, 
seharusnya aku tidak memanggilmu Nenek lagi. Aku akan panggil Nyi 
Cempaka saja ya? Boleh?!” 

Perempuan di atas perahu tertawa panjang dan anggukkan 
kepala. 

Wiro pegang lengan Bujang Gila Tapak Sakti. 

“Ayo, orang mau menolong jangan ditolak. Naik saja dulu ke 
atas perahu. Nanti kalian berdua apa mau main usap-usapan terserah 
saja. Aku pura-pura tidak melihat.” 

Wiro lalu tarik tangan si gendut. Keduanya lari ke pantai lalu 
melesat masuk ke dalam perahu. Wiro sampai duluan. Dia sengaja 
memilih bagian perahu di ujung kiri, berseberangan dengan Nyi 
Cempaka. Bujang Gila Tapak Sakti yang sampai kemudian terpaksa 
memilih bagian tengah perahu jukung. 

Seperti ketika Wiro injakkan kaki di atas jukung, sewaktu hal 
yang sama dilakukan oleh Bujang Gila Tapak Sakti jukung besar itu 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

tidak bergoyang sama sekali. Begitu berada di dalam perahu si gendut 
melirik ke dada perempuan di depannya dan merasa gembira karena 
melihat kini dada pakaian tidak lagi rata tapi tampak membusung. 
Berarti ilmu yang diterapkannya lewat tubuh Wiro berhasil 
dilaksanakan. 

“Sahabat muda,” kata Nyi Cempaka pada Bujang GilaTapak 
Sakti. 

“Walau aku rikuh menjadi muda begini, aku sangat berterima 
kasih, atas apa yang telah kau lakukan terhadap diriku.” 

“Aku juga berterima kasih padamu Nyi Cempaka. Kalau bukan 
kau yang menyembuhkan pasti... hemmm...”Bujang Gila Tapak Sakti 
tidak teruskan ucapan. Hanya senyum-senyum dan menggeliat ketika 
dari belakang Wiro menusuk-nusuk pinggangnya. 

“Tapi apakah perubahan ini hanya untuk sementara saja? 
Jangan-jangan sehari dua hari luntur seperti kain murahan.” 

“Nyi Cempaka, kau tak usah kawatir. Ilmu yang aku dapat atas 
kuasa Tuhan bukan ilmu sulap atau ilmu sihir. Keadaan wajah dan 
tubuhmu akan seperti ini seumur-umur...” 

“Gusti Allah Maha Besar! Aku sungguh-sungguh bersyukur atas 
berkah rakhmat ini.” Kata Nyi Cempaka pula penuh gembira. Nenek 
tua mana yang tidak akan bahagia kalau dirinya bisa dibuat muda? 
“Sahabatku, apakah ilmu itu bisa kau terapkan pada semua orang?” 

“Tidak Nyi Cempaka. Hal itu hanya bisa terjadi jika dikehendaki 
dan diredhohi Gusti Allah,” jawab Bujang GilaTapak Sakti. 

“Kalau bisa untuk semua wah, setiap hari ada ratusan neneknenek 
ngantri mencari si gendut ini!” kata Wiro pula. 

Nyi Cempaka tertawa. 

“Sebagai tanda terima kasih, aku mau memberikan sesuatu 
padamu,” kata Nyi Cempaka pula sambil membuka kancing atas 
pakaiannya. Sepasang mata Bujang GilaTapak Sakti jadi berkilat 
ketika sempat melihat sebagian dada putih perempuan itu. Dari balik 
dada pakaian Nyi Cempaka mengeluarkan satu benda yang ternyata 
adalah sebuah kipas lipat terbuat dari susunan campuran kayu 
cendana dan kayu besi. Ketika kipas itu dikembangkan oleh Bujang 
Gila Tapak Sakti bentuknya indah sekali, kuning kayu cendana harum 
diseling warna hitam kayu besi. 

“Terima kasih Nyi, kau baik sekali. Kebetulan kipas kertas 
bututku rusak dan tercecer entah kemana. Kipas yang kau berikan ini 
bisa aku pergunakan seumur hidup karena terbuat dari kayu yang 
kuat.” 

“Harap kau mau menjaga baik-baik. Karena kipas itu bukan 
kipas sembarangan. Bisa kau jadikan senjata, lebih ampuh dari kipas 
kertasmu yang hilang. Kau bisa menciptakan topan dengan kipas itu. 
Kau juga bisa melancarkan serangan serangan berupa cahaya kuning 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

hitam dengan kipas itu. Lalu tersembunyi di antara lipatan kayu 
cendana dan kayu besi ada puluhan jarum beracun yang hanya boleh 
kau pergunakan sebagai senjata dalam keadaan terdesak. Jarum itu 
bisa melesat kalau kau menekan bagian bawah gagang kipas.” 

“Terima kasih Nyi Cempaka, terima kasih banyak,” ucap Bujang 
Gila Tapak Sakti. Kipas dilipat dan dibuka beberapa kali. Lalu dengan 
hati-hati dia coba mengerahkan sedikit tenaga dalam maka kipas itu 
pancarkan cahaya kuning muda dan hitam pekat.”Luar biasa! Aku 
akan menjaganya baik-baik. Kipas ini boleh aku namakan Kipas Nyi 
Cempaka?” 

Nyi Cempaka tertawa. 

“Silahkan, kalau kau menyukai namaku itu.” 

“Gendut, kau mau memberikan apa pada Nyi Cempaka sebagai 
tanda terima kasih?” Wiro yang dudukdi belakang Bujang Gila Tapak 
Sakti keluarkan ucapan. Dengan ilmu memindahkan suara Wiro 
mengiangkan menyambung ucapan ke telinga Bujang GilaTapak Sakti. 
“Dut, berikan saja salah satu buahmu buat mainan perempuan itu. 
Aku bisa melakukan dengan Ilmu Menahan Darah Memindah Jazad.” 

Bujang Gila Tapak Sakti pukulkan tangan kanannya ke belakang. 
Pukulan menghantam tempurung lutut Wiro sebelah kanan hingga 
murid Sinto Gendeng ini kelojotan kesakitan. 

“Ah, aku...aku tidak punya apa-apa. Bagaimana ini?” Si gendut 
tampak bingung dan seka mukanya yang keringatan. 

Nyi Cempaka tersenyum. “Aku tidak mengharapkan pamrih apaapa. 
Apa yang telah kau lakukan terhadap diriku rasanya aku 
menerima seisi dunia ini.” 

Sementara ke tiga orang itu bercakap-cakap jukung bergerak 
perlahan ke tengah laut dan hari telah malam. 

“Nyi Cempaka, sebenarnya kau hendak pergi kemana? Kami 
tidak mau kalau karena menolong kami urusanmu jadi terganggu.” 

“Sebentar lagi aku akan meninggalkan kalian berdua. Perahu ini 
menjadi milik kalian,” jawab Nyi Cempaka. Dia memandang sekeliling 
lalu memperhatikan laut di sekitarnya. Tiba-tiba di dalam laut 
kelihatan kilauan cahaya putih kebiruan.”Aku sudah melihat tanda,” 
kata Nyi Cempaka pula. “Saat aku akan meninggalkan kalian 
berdua...” 

“Di tengah laut begini? Nyi Cempaka kau mau kemana? Tanya 
Bujang Gila Tapak Sakti heran. Selain itu entah mengapa kepergian 
perempuan itu tiba-tiba membuatnya jadi sedih. 

“Laut adalah kehidupanku. Sejak dulu laut adalah tempat 
tinggalku...” Menjelaskan Nyi Cempaka sambil menatap wajah 
keringatan Bujang Gila Tapak Sakti. 

Si gendut putar-putar kopiah hitam kupluk di atas kepalanya. 

“Lalu, apakah kita... Maksudku kami berdua bisa bertemu lagi 

164 Janda Pulau Cingkuk –WIRO SABLENG 212 


TIRAIKASIH – http://cerita-silat.co.cc/ 

denganmu?” 

Selama air laut masih hijau, selama langit masih biru kita pasti 
akan bertemu iagi,” jawab Nyi Cempaka. 

Bujang Gila Tapak Sakti berpaling pada Wiro. Pendekar 212 
maklum apa yang dirasakan si gendut saat itu. Sobatnya ini tiba-tiba 
merasa sayang pada nenek yang dirobahnya sendiri menjadi seorang 
perempuan muda cantik jelita. 

“Kalau kau mau ikut Nyi Cempaka melihat-lihat kehidupan di 
alam laut, aku yakin Nyi Cempaka tidak keberatan membawamu serta. 
Bukan begitu Nyi Cempaka?” Wiro berkata sambil memandang ke arah 
Nyi Cempaka dan kedipkan mata kiri. 

Nyi Cempaka tersenyum mendengar ucapan Wiro. 

Bujang Gila Tapak Sakti kembali putar-putar kopiah di atas 
kepala. Wiro letakkan tumit kaki kirinya di pinggang Bujang Gila Tapak 
Sakti. Begitu tumit didorong tak ampun lagi si gendut ini terpental 
jatuh ke dalam laut. Nyi Cempaka tertawa tergelak-gelak lalu 
melompat ke arah jatuhnya Bujang Gila Tapak Sakti. Kedua orang itu 
lenyap dari pemandangan. 

Tinggal sendirian di atas jukung Pendekar 212 Wiro Sableng 
tarik nafas dalam-dalam lalu geleng-gelengkan kepala. 

“Bujang Gila, akalmu panjang juga! Mula-mula kau ketakutan 
melihat perempuan itu muncul. Kini malah kepicut mau ikutan! Bukan 
dia yang mau mengusap tapi kau yang kepingin di usap! Ha...ha...ha!” 

Tiba-tiba gelak tawa murid Sinto Gendeng lenyap. Kagetnya 
bukan alang kepalang ketika satu tangan tiba-tiba mencuat dari dalam 
laut mengusap bagian bawah perutnya. Sewaktu diperhatikan ternyata 
itu adalah tangan Bujang Gila Tapak Sakti yang sengaja memunculkan 
diri untuk menggoda lalu masuk kembali ke dalam laut. 

“Sialan! Aku kira Nyi Cempaka yang mengusap!” gerutu 
Pendekar 212 lalu kembali tertawa gelak-gelak 

Namun lagi-lagi tawanya tertahan ketika di samping kanan 
muncul bayangan perempuan diserta terdengar ucapan berbisik di 
telinga “Kalau kau suka kau boleh berikan salah satu buahmu buat 
mainanku! Hik...hik...hik!” 

Kaget sang pendekar bukan alang kepalang. Berpaling ke 
samping dilihatnya wajah Nyi Cempaka tertawa dan kedipkan mata 
padanya. Lalu sosok perempuan ini lenyap masuk ke dalam laut. 

“Aku tidak mengira. Apa yang aku ucapkan dalam hati dia bisa 
mendengar.” Kata Murid Sinto Gendeng sambil menggaruk kepala. 
TAMAT 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar